SastraHolic

Gadis Kecil Peminta-minta

Posted on: Juni 11, 2008

Aku benci sekali harus melewati persimpangan jalan itu, apalagi kalau lampu merah. Entah sudah berapa kali aku melewatinya dan memang itulah jalan satu-satunya menuju kostku. Setiap kali lampu merah, pasti akan banyak peminta-minta atau pedagang asongan yang segera menghampiri. Memang mereka tidak memaksa tetapi aku malas untuk berulangkali menolak permintaan yang sama dari mereka yaitu uang receh. Mereka menawarkan dagangannya, ada yang meminta-minta ada yang mengamen. Semuanya justru menambah keruwetan kota apalagi kalau hari siang.Siang itu aku kembali terjebak pada persimpangan yang sama. Seperti biasa para peminta-minta segera berhamburan meminta-minta kepada para pengendara. Kalau yang tidak memaksa, aku sih sudah mulai cuek, mungkin sudah tidak bisa dihindari lagi, tapi kadang-kadang ada juga yang memaksa yang terkadang membuatku kesal juga. Seorang anak kecil menghampiri pengendara sepeda motor di sampingku. Pandanganku tidak tertarik pada anak kecil peminta-minta itu, aku justru memperhatikan pengendara sepeda motor tersebut yang ternyata seorang cewek, dan sepertinya seorang mahasiswi.Kuperhatikan reaksinya, dalam hati aku berfikir, paling ia akan menolak seperti apa yang aku lakukan. Ternyata dugaanku meleset. Ia memberikan anak itu uang ribuan dua lembar, dan juga permen. Baik juga nih cewek pikirku dalam hati. Sementara itu ia kembali memusatkan pandanganya pada lampu merah.

Kulihat anak kecil itu gembira. Ia berteriak pada teman-temannya.

“Ada permen! Ada permen!” katanya dengan gembira, memanggil teman-temannya. Teman-temannya menghampirinya dan ia membaginya. Uang ribuan yang ada di dalam kaleng minta-mintanya tidak diperhatikannya.

Aku terdiam. Tak lama lampu hijau menyala dan aku segera berlalu. Lama aku berfikir. Apalah arti permen? Uang dua ribu yang didapatnya lebih banyak jika dibelikan permen yang sama. Seharusnya ia lebih gembira dapat uang ribuan tersebut daripada permen, bukankah itu yang dilakukan sebagian besar orang?

Aku tersadar, pemberian tidak harus selalu uang, dan uang belum tentu lebih berarti daripada benda yang kita pikir tidak lebih bermakna daripada uang itu sendiri.

1 Response to "Gadis Kecil Peminta-minta"

Pemberian atau penghargaan kepada seseorang tidak mesti berupa uang….
Kebahagiaan “tidak semata” diperoleh melalui uang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Indonesia Bisa

Bannerku

Picisan Merangkai Kata

Anda Pengunjung ke

Demi Massa

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Aku seperti majnun dengan kemiskinan hatiku, yang telah tiada berdahan karena aku tidak punya kekuatan untuk memperebutkan cinta Tuhan Di setiap siang dan malam aku berusaha untuk membebaskan diriku Dari kungkungan rantai cinta yang telah lama memenjarakanku

Blog Stats

  • 299,086 hits

Arsip

Suported By
Dari Santri Untuk Indonesia
eramuslim
Munajahku
Blognya Pecinta Sastra
Suara Konsumen
Jakarta Baycity
Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik
Jakarta Baycity
GrowUrl.com - growing your website

RSS TARUMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Saatnya Menatap Dunia

Klik tertinggi

  • Tak ada
ping me to technorati
website stats
Bangkit Basmi Korupsi

Poling Bulan Ini

%d blogger menyukai ini: