SastraHolic

Jiwaku bukan seorang Pengemis

Posted on: Juni 9, 2008

Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke Jakarta. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di hadapan.“Abang mau beli kue?” katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.“Tidak, dik. Abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas.Dia berlalu.

Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian, saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.

Abang baru selesai makan, dik. Masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut.

Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lewat dia tanya, “Tak mau beli kue saya, bang, pak, kak, atau Ibu.” Molek budi bahasanya.

Pemilik restoran itu pun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya saat melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk, dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela, membalas senyumannya.
Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang memerlukan kue saya untuk adik-adik, ibu, atau ayah abang,” katanya sopan sekali sambil tersenyum.Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya.

Ambil ini, dik! Abang sedekah. Tak usah Abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih dan terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan, saya memundurkannya. Alangkah terperanjatnya saya ketika melihat anak itu mengulurkan Rp. 20.000,- pemberian saya kepada seorang pengemis yang buta kedua matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu.

Kenapa, bang. Mau beli kue kah?” tanyanya.

Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan untuk Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak, kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau beliau tahu saya bawa duit sebanyak itu dan pulang, sedangkan jualan masih banyak, Emak pasti marah. Kata Emak, mengemis kerja orang yang tak berupaya. Saya masih kuat, Bang!” katanya begitu lancar.

Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak basa-basi, saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

Abang mau beli semua kah?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata.

Rp. 25.000,- saja, bang…”

Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp. 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya…(kotasantri)

2 Tanggapan to "Jiwaku bukan seorang Pengemis"

salam kenal
Subhanallah…
berbahagia sekali orang tua yang memiliki anak seperti anak penjaja kue tersebut……..
tulisan anda bagus2…keep writing..

🙂

Tapi, kenapa dia menerima uang tsb?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Indonesia Bisa

Bannerku

Picisan Merangkai Kata

Anda Pengunjung ke

Demi Massa

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Aku seperti majnun dengan kemiskinan hatiku, yang telah tiada berdahan karena aku tidak punya kekuatan untuk memperebutkan cinta Tuhan Di setiap siang dan malam aku berusaha untuk membebaskan diriku Dari kungkungan rantai cinta yang telah lama memenjarakanku

Blog Stats

  • 299,086 hits

Arsip

Suported By
Dari Santri Untuk Indonesia
eramuslim
Munajahku
Blognya Pecinta Sastra
Suara Konsumen
Jakarta Baycity
Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik
Jakarta Baycity
GrowUrl.com - growing your website

RSS TARUMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Saatnya Menatap Dunia

Klik tertinggi

  • Tak ada
ping me to technorati
website stats
Bangkit Basmi Korupsi

Poling Bulan Ini

%d blogger menyukai ini: