SastraHolic

Paradigma Antologi Sastra

Posted on: Mei 7, 2008

Bila ada seorang sastrawan Indonesia secara eksplisit menampakkan sikap kekecewaan lewat cara berburuk sangka atau marah-marah gara-gara karya sastranya tak masuk sebuah antologi sastra sebenarnya itu kecenderungan lama yang sudah berulang kali terjadi dan menjangkiti nyaris setiap antologi sastra kita. Kekecewaan semacam itu cenderung juga akan memancing tanggapan ”baik-baik maupun emosional.” 
Penyusun antologi sastra dan sastrawan biasanya sama-sama saling bersikukuh dengan sikap dan pendapat masing-masing. Penyusun antologi sastra tak mau mengalah begitu saja, sedangkan sastrawan sulit bersikap bijaksana menghadapi kenyataan karyanya tak masuk antologi sastra. Urusan terus bersambung dan melebar. 
Kecenderungan itu biasanya menyimpan endapan kepentingan pribadi yang menonjol, lebih mengandalkan dukungan argumentasi retoris ketimbang argumentasi analitis dan bahkan acap berlanjut terkesan naïf kekanakan ”meremehkan” antologi sastra. Intinya, kekecewaan itu lebih banyak yang tak mengerti latar ihwal dan telah khilaf memahami paradigma antologi sastra yang sebenarnya: pemetaan ”capaian-capaian puncak mainstream sastra” pada masa tertentu berdasarkan capaian estetik maupun tematik, sesuai ketetapan kriteria yang telah dipilih penyusunnya. 
Sekadar contoh, sebuah antologi puisi memasukkan puisi Taufik Ismail dan WS Rendra dan tak memasukkan puisi Si Polan yang konon banyak menulis puisi cinta yang bertahun-tahun hanya mengeram di laci meja tulisnya, juga tanpa puisi Sitok Srengenge maupun puisi Jamal D Rahman. Antologi puisi ini ”sah” dan memenuhi kategori antologi puisi yang baik bila pilihan kriterianya, misal, berdasarkan capaian puncak mainstream puisi tema protes atau kritik sosial pasca-kemerdekaan Indonesia sampai sebelum rezim Soeharto lengser. 
Konsekuensi praksis yang tak bisa dihindari dari paradigma antologi sastra adalah tak semua nama sastrawan dan karyanya bisa masuk antologi sastra. Antologi sastra memetakan prestasi puncak dan bukan koleksi selengkapnya nama sastrawan dan karyanya. Penyair tahun 40-an bukan hanya Chairil Anwar. Novelis tahun 30-an bukan hanya Armijn Pane. Penyair tahun 70-an bukan hanya Sutardji Calzoum Bachri. Tapi, Chairil adalah pencapai puncak mainstream estetik maupun tematik puisi yang ”mewakili” para penyair lain semasanya. Demikian halnya Armijn Pane dan Sutardji yang menjadi ”wakil” masanya masing-masing. 
Kerja penyusun antologi sastra tak bisa dianalogikan sebagai kerja tukang sensus yang wajib mencatat nama-nama sastrawan dan karyanya selengkap-lengkapnya. Antologi sastra yang baik bukan kumpulan dokumentasi nama sastrawan dan karyanya selengkap-lengkapnya. Sebuah antologi sastra yang baik selain harus memiliki paradigma juga harus menetapkan seperangkat kriterianya sendiri yang setepat dan serepresentatif mungkin dan diterapkan oleh penyusun antologi sastra secara ketat dan akurat. Kriteria antologi sastra bisa sangat beragam sesuai ketetapan penyusun meskipun paradigmanya tak berbeda. 

***
Publik sastra kita masih bisa mengenang dengan baik polemik antologi puisi Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1996) dan Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, 2000). Antologi-antologi yang lain sejenis ini juga tak bisa mutlak mengelak dari cecaran ekspresi kekecewaan yang datang ”hanya” dari komunitas sastrawan sendiri. Banyak penyusun antologi sastra terpaksa mengalami semacam paranoid: tegang duluan sebelum menerbitkan antologi sastra sebab telah menduga bakal muncul kekecewaan beberapa sastrawan. Kitab Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002) pun terpaksa harus menghadapi hal demikian.
Mengapa nyaris selalu ada sastrawan yang eksplisit menampakkan sikap kecewanya tiap kali terbit antologi sastra dan acap melantur-lanturkannya kemudian membesar dan meruncing menjadi polemik hiruk-pikuk? Sastrawan kita mungkin mengidap pemahaman bahwa nama sastrawan dan karyanya yang masuk antologi sastra adalah wujud pengakuan yang signifikan dunia sastra terhadap kesastrawanan dan karyanya, sehingga ketika karya seorang sastrawan tak masuk sebuah antologi sastra akan menilai eksistensi kesastrawanannya tak diakui dunia sastra. Sastrawan merasa disikapi tak adil oleh dunia sastra bila karyanya tak masuk antologi sastra dan eksistensi kesastrawanannya terusik. 
Latar psikologis ini akan memeram banyak potensi kekecewaan yang tak mudah untuk dipahamkan dan bisa lega menerima kenyataan. Barangkali juga latar persoalan bukan hanya kekecewaan atau ”keterusikan eksistensial” itu, kepentingan tertentu maupun aspirasi sejarah juga bisa potensial menjadi latar lain pemicunya. 
Sikap pro-kontra yang menyertai polemik antologi sastra acap menciptakan front-front yang saling bersitegang pendapat dan menyulut perbalahan yang tak singkat dengan melibatkan banyak pihak. Toh buku antologi sastra masih terus diterbitkan meski ancaman polemik tampak tak kunjung padam juga dan (seperti biasanya) selalu tanpa melahirkan solusi mencerahkan atau pengertian yang bijak. Seolah-olah polemik seputar antologi sastra selama ini hanya menciptakan arena ”konflik wacana” yang sebenarnya banyak memubazirkan energi pikiran dan waktu banyak penulis maupun pembacanya dan jelas miskin manfaat. 
Kita tak asing dengan antologi artikel sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, psikologi maupun demokrasi. Antologi-antologi artikel non-sastra ini nyaris tak memunculkan kekecewaan yang eksplisit dari para penulis yang artikelnya tak masuk di dalamnya. Antologi sejenis ini banyak sekali diterbitkan dan mendapat sambutan positif publik ditandai oleh antusiasme apresiasi dan diserap pasar pembaca. Alat ukur sambutan positif itu bisa berupa resensi yang semarak di media massa maupun diskusi dan banyak antologi sejenis ini yang mengalami cetak ulang secara signifikan. 
Barangkali ”keikhlasan menulis” seorang penulis artikel politik membuat penulis tak perlu harus ”kebakaran jenggot” ketika karyanya tak masuk sebuah antologi artikel politik. Penulis artikel politik itu bekerja bukan untuk menjadi ”hero” melainkan ekspresi aspirasi pribadinya pada dunia politik. Sikap dewasa demikian tampak tak dimiliki beberapa sastrawan kita. 
Mengapa antologi sastra sering disikapi dan bernasib buruk tak sebagaimana antologi tulisan non-sastra? Selain disebabkan sinyalemen ”keikhlasan” yang meragukan itu, juga piciknya rasa ”tahu diri” beberapa sastrawan terhadap posisi kesastrawanan dan karyanya dalam peta capaian-capaian mainstream estetika sastra di masanya. Dua hal ini membuat beberapa sastrawan yang karyanya tak masuk antologi sastra bersikap tak dewasa. 
Dalam ungkapan yang lain sastrawan mestinya tak usah kecewa karyanya tak masuk antologi sastra; tugas utama sastrawan menulis dan menulis sebaik-baiknya. Bila karyanya baik sejarah akan merawatnya dan mengenang kesastrawanannya. Sejarah selalu mengajukan, membela dan menguji kembali bukti-bukti yang telah ada. Kekecewaan sastrawan hanya karena karyanya tak masuk antologi sastra adalah indikator lemahnya kepercayaan diri sastrawan terhadap diri dan karyanya sendiri disebabkan terlanjur menganggap bahwa waktu yang semasanya adalah satu-satunya penentu ukuran nilai karyanya, penentu sejarah karyanya. 
Apresiasi yang buruk apalagi sinisme yang muncul dari dalam komunitas sastrawan terhadap antologi sastra akan melongsorkan citranya sehingga publik tak memiliki gambaran yang ”menjanjikan” dan positif dan efeknya akan mengasingkan antologi sastra dan seisinya dari daftar agenda perhatian publik luas.
Polemik seputar antologi sastra barangkali sebuah fakta yang bisa dijadikan indikator signifikan antologi sastra masih dianggap penting dalam dunia sastra kita. Anggapan itu tak keliru. Sebab artefak karya sastra itu teks, tulisan, sehingga buku dan alternatif medium yang sefungsi lainnya jadi penting dan representatif. 
Kini sastrawan dan penyusun antologi sastra sangat penting untuk memahami paradigma antologi sastra maupun pada pilihan kriteria penyusunnya. Penerapan pemahaman ini akan menghasilkan antologi sastra yang representatif serta dapat dipertanggungjawabkan dan bisa ”menepis” kemungkinan muncul kekecewaan dari luar maupun dari dalam komunitas sastrawan sendiri.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Indonesia Bisa

Bannerku

Picisan Merangkai Kata

Anda Pengunjung ke

Demi Massa

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Aku seperti majnun dengan kemiskinan hatiku, yang telah tiada berdahan karena aku tidak punya kekuatan untuk memperebutkan cinta Tuhan Di setiap siang dan malam aku berusaha untuk membebaskan diriku Dari kungkungan rantai cinta yang telah lama memenjarakanku

Blog Stats

  • 299,086 hits

Arsip

Suported By
Dari Santri Untuk Indonesia
eramuslim
Munajahku
Blognya Pecinta Sastra
Suara Konsumen
Jakarta Baycity
Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik
Jakarta Baycity
GrowUrl.com - growing your website

RSS TARUMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Saatnya Menatap Dunia

Klik tertinggi

  • Tak ada
ping me to technorati
website stats
Bangkit Basmi Korupsi

Poling Bulan Ini

%d blogger menyukai ini: