SastraHolic

Menimbang Sastra Islam Masa Kini

Posted on: Mei 7, 2008

 

Sejak dibukanya keran kebebasan di kalangan umat Islam Indonesia di
penghujung kekuasaan Soeharto. Umat mengalami -meminjam istilah eep s.
fattah- ledakan partisipasi dalam berekpresi. Dimotori oleh kemunculan
ICMI-nya Habiebe, muncul wacana "islamisasi" dalam beragam hal, yang
seringkali dipersepsikan oleh golongan nasionalis dan non-muslim sebagai
ancaman bagi keutuhan NKRI, akibatnya mereka merasa perlu membuat organisasi
tandingan seperti ICI atau Ikatan Cendikiawan Indonesia -jadi inget merk cat
ternama- yang dipelopori oleh jendral gaek Edy Sudrajat (almarhum). Nah,
pendirian ICMI dengan ketuanya Habibie menjadi milestone era keberpihakan
Soeharto terhadap umat Islam Indonesia saat itu.

Dalam banyak hal keberadaan ICMI cukup mendukung apirasi Umat Islam
Indonesia setidaknya agenda pengganyangan SDSB, penghentian larangan
berjilbab di lembaga pendidikan dan pemerintahan dapat terealisasikan. Yang
menarik pada kurun ini adalah mulai kendornya pengawasan intel terhadap
menjamurnya penerbitan-penerbitan majalah islami baik yang radikal seperti
sabili maupun yang soft dan berorientasi pada aspek kewanitaan seperti :
ummi, annida, dsb. Di tengah kegersangan bacaan di kalangan aktivis muslim /
muslimah yang jumlah semakin menjamur di perbagai kampus dan sekolah negeri
di Indonesia. Keberadaan media ini bisa menjadi sarana eskapisme diri
terhadap realitas sekeliling yang cenderung tidak ramah dengan idealisme
keislaman yang mereka terima dalam setiap kegiatan liqa.

Sang Tokoh Idaman

Hal yang menarik dalam perkembangan media Islam saat itu adalah kehausan
terhadap tokoh yang dapat diidolakan sebagai cermin pengajaran ideal
al-Islam. Khususnya bagi mereka yang mengalami penyadaran akan keislaman
justru ketika usia beranjak remaja (slta-mahasiswa). Aktivis muslimah (untuk
selanjutnya disebut akhwat) seperti halnya kaum wanita yang lain mengemari
cerita mengenai kehidupan yang romantis yang acapkali hanya didapati dari
dongeng, novel, ataupun film. Sayangnya saat itu (dan bahkan kini) media
(majalah, novel, filem, dsb) didominasi oleh bacaan yang tidak islami
(sekuler?) yang dalam jangka panjang dapat mewarnai  proses pembentukan
kepribadian yang bertentangan dengan nilai-nilai Islami yang mereka yakini.
Kemunculan Annida menjadi salah satu oase di tengah kegersangan  media
bacaan yang ada.  Menawarkan fantasi romantisme dengan tokoh (pria
-tentunya) yang diidamkan yang memiliki ketinggian aqidah dan akhlaq
mendekati maqam malakiyah.

Menariknya adalah tulisan-tulisan cerpen Islami dalam majalah2 muslimah
didominasi oleh tokoh-tokoh rekaan yang itu-itu saja. Tokohnya secara visual
diidentifikasikan ganteng (ya iyalah kalo berfantasi aja udah jelek gimana
nanti kenyataannya), cerdas, periang, selalu tersenyum, dan ramah.  Kita
ambil contoh salah satu kutipan dari cerpen "Ketika Mas Gagah Pergi"
karangan HTR.

"..... Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Teknik Sipil UI semester
tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…
ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnnya sendiri dari hasil
mengajar privat untuk anak-anak SMA...."

Gambaran tokoh seperti Mas Gagah hampir selalu bermunculan dalam
artikel-artikel "pink" di majalah wanita Islami dan sulit sekali menemukan
sang tokoh yang memiliki identifikasi fisik yang tidak menarik sebagai
jagoan. Satu tambahan lagi rata-rata tokoh digambarkan sebagai seorang
aktivis mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri
dan perguruan tinggi tsb adalah UI! Umumnya tokoh selalu berasal kalau tidak
dari fakultas kedokteran, ya dari fakultas teknik. Jarang yang berasal dari
FMIPA walau kenyataannya fakultas ini dijuluki pesantrennya UI... mungkin
karena masa depannya dianggap kurang menjanjikan he he :-)

Hal yang menggelitik saya adalah sang tokoh idola selalu ditafsirkan
memiliki senyum sangat menawan mungkin setara dengan Adam Jordan bintang
iklan pasta gigi Pepsodent yang membuat para akhwat jadi mabuk kepayang.

"... ia memiliki senyum yang menawan. Bahkan ketika mas roni terdiam, orang
yang berpapasan dengannya pasti akan tersenyum mengangguk. Terkadang mas
roni heran mengapa banyak orang tersenyum dengannya padahal ia merasa tidak
memberikan senyuman ataupun menyapa orang tsb. Mas Roni itu nggak sadar
terhadap anatomi bibirnya yang mengesankan dirinya sedang tersenyum dengan
orang lain, bahkan ketika ia sedang terdiam..."

Luar biasa bukan... dalam beberapa artikel sang tokoh dijelaskan secara
lebih mendetil sesuai dengan gambaran seorang ikhwan ideal seperti :
berjenggot tipis, bertas ransel, dan mengenakan baju koko. Atribut-atribut
ini bahkan menjadi asesoris  yang acapkali bisa membuat kebingungan sidang
pembaca untuk menebak keberpihakan dan keislaman sang tokoh bila ia tidak
didapati pada diri sang tokoh.

Tak ada hal yang berat yang dimunculkan dalam artikel-artikel pink yang
islami ini. Sang tokoh digambarkan lurus-lurus aja dalam menempuh pergulatan
kehidupan, sang tokoh sudah hanif dari sononya... atau kalau ia bergajulan
maka **BLAM** sebuah kisah tragis dan traumatis yang singkat mengubahnya
menjadi seorang yang hanif dan ruhi. Tak ada pergulatan pemikiran, tak ada
kegamangan keyakinan semuanya terjadi mengalir dengan sederhana memuaskan
fantasi ideal sang tokoh khayalan.. maka Fahri -Ayat-ayat Cinta- adalah
wujud sempurna sang tokoh idaman. Sejatinya justru alur cerita ini yang
memang diinginkan oleh konsumen dan juga tujuan dari majalah islami ini
adalah mencoba mendekatkan gambaran ideal tokoh pujaan ke dalam hati yang
sulit didapati dalam realitas kehidupan. Tentu memang bukan pengayaan wacana
yang dituju tapi emosi keagamaan itulah yang ingin digapai. Dalam hal ini
media tsb telah berhasil.

Sastra Islam di era Buya Hamka

Saat ini para sejarawan dan sastrawan berdebat apakah penulis AAC (Ayat-Ayat
Cinta) dapat disejajarkan dengan maqam Buya Hamka seorang ulama besar yang
sastrawan. Dari perdebatan yang muncul selalu bermuara pada kesimpulan bahwa
belum saatnya sang Habib ditempatkan di sepatu yang pernah abuya kenakan di
masa lalu. Memang ada benang merah yang dapat ditarik dari hasil karya kedua
orang tsb, yakni : kandungan nilai-nilai islami yang tersirat dalam setiap
karyanya. Namun yang membedakan sang buya dan sang habib adalah begitu
dekatnya sang tokoh rekaan abuya dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Sebagai gambaran mari kita ambil contoh karya abuya yang cukup fenomenal
yaitu "dibawah lindungan kabah". Tokoh utama "Hamid" digambarkan sebagai
orang yang berparas kurang menarik, lahir dari keluarga miskin dimana sang
ayah telah tiada, dan kehidupan keluarga ditopang oleh ibunya yang berdagang
pisang goreng. Hidup di masa mudanya sebagai jongos pada keluarga kaya yang
kebetulan berbaik hati menyekolahkannnya untuk sekedar menemani sang anak
gadis majikan bersekolah. Mungkin dari segi cerita, semua kisah cinta sama
aja... he he :-)  singkat cerita Hamid jatuh  cinta,  sedangkan Hamid selalu
menafikan hatinya karena status dan kekayaan yang jauh berbeda. Tak kuasa
menahan beban asmara ia pergi dan bermuqim di mekkah.

"Memang anakku, … cinta itu adil sifatnya, Allah telah mentakdirkan dia
dalam keadilan, tidak memperbedakan-bedakan diantara raja-raja dengan orang
minta-minta, tiada menyisihkan orang kaya dengan orang miskin, orang hina
dengan orang mulia, bahkan kadang-kadang tiada juga berbeda baginya antara
bangsa dengan bangsa. Tetapi aturan pergaulan hidup, tidak membiarkan yang
demikian itu berlaku. Orang sebagai kita ini telah dicap dengan derajat
bawah atau orang kebanyakan, sedang mereka diberi nama cabang atas, cabang
atas ada kalanya karena pangkat dan ada kalanya karena harta benda…"(hal.22
),

Nah dari sinilah kisah bermula... sampai di mekkah Hamid bertemu dengan
seorang wanita yang ikut pergi haji bersama suaminya. Kebetulan sang wanita
tsb adalah kawan akrab Zaenab, dari sini mulailah Hamid dan Zaenab bertukar
surat... semua kisah cinta dendam dan rindu ditulis indah dalam jalinan
surat-menyurat antara Hamid dan Zaenab yang konon dalam novel ini abuya
turut berperan menjadi salah satu figuran yang mendengarkan penuturan sang
tokoh akan kisah cintanya. Yang akhirnya sang tokoh meninggal di bawah
terpal kain pelindung kabah manakala tahu Zaenab pujaan hatinya telah wafat
karena penyakit, dalam kesabarannya menanti Hamid kembali pulang.

".... Dibawah lindungan Ka'bah Hamid bersimpuh diri atas segala permasalahan
batinnya, berharap pertolongan ada kekuatan untuk tegar menghadapi kenyataan
pahit ini. Sampai akhirnya dia tahu cintanya selama ini ternyata dirasakan
juga oleh Zaenab. Tapi itu semua sudah terlambat, karena dua tahun berpisah
adalah waktu yang lama bagi mereka, sampai akhirnya terombang-ambing dalam
kerindunan tanpa akhir. Hingga ajal yang mengakhiri..."

Hamka mengakhiri kisahnya dengan cara yang tidak populer, kedua tokoh
meninggal dunia! Mungkin bukan cara yang ingin dibaca oleh konsumen cerpen
ataupun novel islami masa kini.  Tapi cara Hamka menuturkan kisahnya sungguh
luar biasa, bagaimana surat-menyurat antara Hamid dan Zaenab dapat begitu
hidup. Tak banyak penulis mampu untuk menjadikan aktivitas surat-menyurat
kedua tokoh yang terpisah oleh ruang yang jauh menjadi kisah yang menarik
untuk dibaca.

Nampak jelas kedalaman novel  "dibawah lindungan kabah" , abuya tidak
terjebak dalam visualisasi tokoh serba sempurna dimana sang tokoh mendekati
qualitas malakiyah. Tidak pula menuliskan suatu kisah yang hampir muskil
dimana seorang pria digila-gilai oleh empat wanita yang cantik2 belaka yang
bersedia untuk dipoligami. Hamid berbeda jauh dengan Fahri... Hamid adalah
kisah pria tidak menarik, namun sederhana, soleh cukuplah, dan miskin...
yang jatuh cinta dengan gadis cantik yang kaya-raya. Walaupun keduanya
mencintai.. toh akhir cerita tidak selalu berada dalam "mahligai istana"
kebahagian. Disini Hamka menyadari betapa sulit bagi keduanya untuk saling
bersatu.. dan ia tidak memaksakan akhir cerita yang indah dimana
Hamid-Zaenab mampu menghancurkan halangan tsb. Karena sememangnya itulah
kenyataan yang umum terjadi di masa abuya beranjak dewasa.

Menggagas Sastra Islami yang Penuh Vitalitas

Sastra islami Indonesia saat ini terjebak dalam retorika sempit sebagai
antitesis sastra "cabul" yang dimotori oleh para aktivisi feminisme.
Akibatnya muatannya terkesan dipaksakan.. terjebak dalam kalimat-kalimat
verbal yang membosankan yang kerapkali diulang-ulang sebagai dalil
pembenaran. Sejatinya nilai tidak harus selalu dieksplisitkan dalam bentuk
kalimat, ia bisa tersirat dalam cara berpikir dan bertindak. Tidak harus
selalu hitam-putih dan penuh stigmatisasi, karena pembaca saat ini cukup
cerdas menebak "petunjuk" yang diberikan oleh penulis. Sang tokoh tidak
harus dari sononya bersih ataupun ruhi... tidak harus tiba-tiba jadi alim
karena kejadian traumatis seketika... buat saya itu plot basi banget.

Sastra islami seharusnya penuh vitalitas, tidak semata membangkitkan emosi
religiusitas yang dibangkitkan dengan penggambaran hitam-putih kehidupan dan
stigmatisasi. Tapi juga memberikan pencerahan bagi akal, sebaiknya sang
tokoh menghadapi pergulatan dalam kehidupan, pergulatan bisa macam-macam :
pergulatan karena kemiskinan, pergulatan intelektual, pergulatan keyakinan,
yang kemudian mengarahkannya pada sebuah titik terang kebenaran. Sang tokoh
tidak harus selalu menjadi pemenang. Ia boleh kalah, kalah dalam membela
kebenaran, kalah dengan bermartabat, atau kalau perlu kalah dengan tangan
terkepal. Karena sejatinya mereka yang kalah lebih banyak dari yang menang,
mereka yang gagal lebih banyak dari yang berhasil. Yang membedakannya adalah
bagaimana ia kalah... kalah dalam membela kebenaran, kalah dalam menjaga
martabat diri, atau mungkin kalah dalam mempertahankan tauhid.

Penutup

Sastra islami seharusnya tak takut untuk berdialektika. Sebagaimana abuya
hamka fasih mengutip ayat quran dan hadits, ia fasih pula mengutip kalimat
bersayap sastrawan besar Leo Tolstoy. Menghujah dengan penguasaan balaghah
dan mantiq yang indah, sekaligus sempurna mematahkan wahm materialisme
dengan logika aristotelian. Seratus tahun sudah usia Hamka kini, namun
mungkin 1000 tahun lagi anak-cucu kita masih merapal namanya dengan takjub.
Di saat kita kini sibuk memberikan stigma negatif terhadap non-muslim dan
sesama muslim. Hamka meluaskan pandangan kita untuk bagaimana menjadi muslim
yang sekaligus menjadi warga dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Indonesia Bisa

Bannerku

Picisan Merangkai Kata

Anda Pengunjung ke

Demi Massa

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Aku seperti majnun dengan kemiskinan hatiku, yang telah tiada berdahan karena aku tidak punya kekuatan untuk memperebutkan cinta Tuhan Di setiap siang dan malam aku berusaha untuk membebaskan diriku Dari kungkungan rantai cinta yang telah lama memenjarakanku

Blog Stats

  • 299,086 hits

Arsip

Suported By
Dari Santri Untuk Indonesia
eramuslim
Munajahku
Blognya Pecinta Sastra
Suara Konsumen
Jakarta Baycity
Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik
Jakarta Baycity
GrowUrl.com - growing your website

RSS TARUMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Saatnya Menatap Dunia

Klik tertinggi

  • Tak ada
ping me to technorati
website stats
Bangkit Basmi Korupsi

Poling Bulan Ini

%d blogger menyukai ini: