SastraHolic

Habiburrahman el-Shirazy “Jadi Presiden Indonesia, Ya Siapa Tahu?”

Posted on: April 4, 2008

SEJAK booming film Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El-Shirazy atau akrab dipanggil Kang Abik yang biasanya gampang dihubungi, mendadak sulit dikontak. Sejak Selasa (18/2), kami berusaha menelepon ke ponselnya. Namun tak aktif. Begitu juga saat hendak menelusur keberadaan Kang Abik lewat sang adik, Anif Sirsaeba. Ponselnya juga tak aktif.

Akhirnya, Kamis (20/3), kami berhasil menghubungi istri yang kini jadi manajernya, Muyasarotun Sa’idah. Istri Kang Abik tak langsung memberi jawaban saat kami meminta waktu interview. Barulah pada Jumat (21/3) malam, Muyasarotun memberi kepastian lewat SMS. Wawancara, katanya, Insya Allah bisa dilakukan Sabtu (22/3) di rumah mertua Kang Abik, pukul 09.00 WIB.

Pukul 09.10, kami tiba di Kelurahan Bujel Salatiga. Tempat tinggal Kang Abik hanya sekitar 10 menit dari kampus Universitas Kristen Satya Wacana. Rumah bercat cokelat itu, sederhana, namun asri. Pepohonan yang ada di sekeliling memberikan kesejukan dan suasana tenang. Di kusen pintu masuk rumah, ada papan nama tertulis Muslim Djawahir, nama mertua Kang Abik yang sudah almarhum.

Sesaat setelah kami menekan bel, keluar seorang pria bertubuh tegap membukakan pintu. Ia tampil santai dengan t’shirt putih dan celana panjang. Dialah Kang Abik, dengan ramah mempersilakan kami masuk. Beberapa saat kemudian, istri Kang Abik keluar dari kamar. Perempuan berwajah segar itu menyambut dengan senyum kemudian memberikan salam. Kang Abik masuk. Sang istri menyusul, sesaat kemudian, ia kembali dengan membawa si kecil, Muhammad Ziaul Kautsar. Ia meletakkan bocah enam bulan itu di kursi yang tadi diduduki Kang Abik. Ia memakaikan celana kepada bayinya. Sementara, sulung Kang Abik, Muhammad Neil Author (2 tahun), menyambut tamu dengan caranya: berlarian di ruang tamu.

Sambil menunggu Kang Abik, Muyasarotun bercerita dia belum menonton film Ayat-Ayat Cinta. “Beberapa hari lalu, Kang Abik nganter Ibu (mertua-Red) nonton di Solo. Saya nggak ikut karena menjaga anak. Paling ya gitu. Soalnya saya sudah mengikuti novelnya sejak dimuat di Republika,” kata Muyasarotun.

Perbincangan terhenti, ketika Kang Abik, yang sudah berganti baju batik, kembali ke ruang tamu. Sang istri pun masuk. Perbincangan dengan pria yang pernah mondok di MTs Futuhiyyah Mranggen itu belum mengalir lancar. Kang Abik masih menjaga jarak. Ia menjawab dengan suara pelan, dan tertata. Alumnus Fakultas Ushu-luddin, jurusan Hadist Universitas Al Azhar Kairo itu menjawab hanya satu kata, “Bagus”, saat kami menanyakan komentar tentang film Ayat-Ayat Cinta. Saat digiring pertanyaan bagaimana perasaan melihat kesuksesan filmnya, cukup lama dia tak melontarkan jawaban. “Saya tidak bisa menyembunyikan bahwa saya bahagia, ini bisa jadi satu bukti bahwa film yang dikemas secara islami dengan profesional bisa meledak.

Nikmat dan Cobaan

Saat kami menyebut Kang Abik sebagai selebriti, obrolan mencair. Tawanya lepas. “Wong ndeso ngene kok selebritis. Saya biasa-biasa saja. Makannya yo bakwan, yo ora pizza-pizza-nan,” katanya dengan aksen Jawa khas pesantren. Kang Abik menegaskan dirinya tetap berusaha jadi santri, hidup dengan cara santri, dan akan terus mengabdi untuk masyarakat. “Saya rak gigrik karo duit,” ujarnya.

Soal royalti dan honor yang kabarnya mencapai miliaran rupiah, pria ini menjawab diplomatis. “Takokke ning penerbite utawa PH-ne, mesti dijawab. Sing jelas iso nggo tuku bakwan, utawa nggo nraktir bakso kanca-kanca sing ana kene”.

Pria kelahiran 30 September 1976 ini menyatakan hampir semua stasiun televisi, dan juga PH besar di negeri ini pernah mendatanginya. Mereka menawari novelnya dibuat film atau sinetron. “Bahkan ada salah satu bos PH yang bilang begini, ‘apa Anda nggak bangga, karya terpampang di bioskop”‘, cerita penulis yang bergelar si Tangan Emas ini. Kang Abik menyikapi dengan tenang. “Dupeh aku wong ndeso, terus digawe gigrik,” katanya.

“Bahkan ada penerbit yang mendesak, meminta tulisan saya sing elek-elek, bekas makalah di Kairo dulu, mereka mau menerbitkan”. Kang Abik tak mau aji mumpung.

Rencananya, novel Ketika Cinta Bertasbih juga akan difilmkan. Produsernya bukan MD Enterteinment pembuat film Ayat-Ayat Cinta, tapi Sinemart. “Saya berusaha fair. Siapa yang duluan menawar akan saya berikan. Saya memakai azas orang ngelama”.

Peraih gelar Postgraduate (Pg.D) dari The Institutes for Islamic Studies Kairo ini mengalokasi pendapatan untuk kemajuan pesantren Karya dan Wirausaha Basmala, yang didirikan bersama sang adik, Anif dan Prie GS, budayawan dan Pemimpin Redaksi Tabloid Cempaka. “Untuk keluarga tentu juga ada,” tambahnya

Pria ini menyikapi kesuksesan dengan syukur. Ia menganggap apa yang diperoleh sebagai bagian dari nikmat. “Sebagai penulis, cara bersyukurnya dengan menulis karya yang lebih baik lagi”.

Popularitas tegas Kang Abik tak harus membuatnya lupa diri. “Saya juga menganggap ini bagian dari cobaan, agar selalu ingat diri, dan waspada,” kata penulis antologi cerpen Ketika Duka Tersenyum, Merah di Jenin dan Ketika Cinta Menemukanmu.

Ia bersyukur, aktivitas yang padat semasa kuliah di Kairo membuatnya terlatih mengatur waktu. Sekarang ini, meski kesibukannya bertambah, tak ada masalah. Meski sibuk ia ini berusaha menyeimbangkan kepentingan keluarga dan masyarakat. Meski di rumah tak sampai 24 jam, Kang Abik selalu menyempatkan diri untuk pulang. “Karena ada hak istri, dan anak,” kata Peraih Pena Award 2005 dan IBF Award 2006 ini.

Selain menulis, kegiatan kang Abik yang lain, mengajar di pesantren, menerima undangan ceramah, pengajian, bedah buku, serta pelatihan menulis.

Soal keluarga, pria yang tengah menyelesaikan novel Bidadari Bermata Bening dan Langit Makkah Berwarna Merah ini ingin meniru Rasulullah. Soal pendidikan, ia membiarkan anak-anaknya memilih, selama berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara, dan agama. “Saya tak ingin mereka memilih yang sia-sia. Kalau misalnya si Muhammad, mau jadi dokter, sutradara film, atau seperti ayahnya, ahlan wa sahlan. Yang penting tujuan utamanya sebagai hamba Allah, yaitu beribadah, nggak boleh dilupakan”.

Kang Abik bersyukur punya istri yang sabar, dan sangat mendukung kegiatannya. Saat Muyasarotun ditanya apa kekurangan suaminya, perempuan itu tak segera menjawab. Kang Abik membantu menjawab. “Paling yo pelupa, yo Dik,” kata Kang Abik sambil memandang si istri, mesra.

Saat ditanya apakah suaminya romantis, Muyasarotun juga tak segera menjawab. Kang Abik kembali membantu. “Coba, Dik, kasih tahu, apa hadiah yang baru saja aku berikan padamu”. Dengan sedikit malu, perempuan itu berkata, “Pak Habib menghadiahi camcorder. Karena nanti siang ada acara keluarga. Pak Habib ingin merekam acara untuk anak-anak”.

Di saat luang, pria ini menghabiskan waktu bersama keluarga. “Saya bermain bersama anak, masuk ke dunia anak kecil. Brangkangan,” kata pria yang terngah menyiapkan buku untuk anak-anak ini. “Saya sedang belajar tentang psikologi dan sastra anak. Saya tidak ingin menulis tanpa dapat ilmunya”.

Meski sekarang Kang Abik sering mendapat undangan ke Jakarta, namun ia belum berpikiran untuk hijrah ke Ibukota. Saat ini planningnya, hanya Semarang-Salatiga. “Tapi kalau tiba-tiba Allah menghendaki saya ke Jakarta, misalnya saya jadi presiden Indonesia, ya siapa tahu,” kata pria yang ingin membuat karya sebanyak-banyaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Indonesia Bisa

Bannerku

Picisan Merangkai Kata

Anda Pengunjung ke

Demi Massa

April 2008
S S R K J S M
    Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Aku seperti majnun dengan kemiskinan hatiku, yang telah tiada berdahan karena aku tidak punya kekuatan untuk memperebutkan cinta Tuhan Di setiap siang dan malam aku berusaha untuk membebaskan diriku Dari kungkungan rantai cinta yang telah lama memenjarakanku

Blog Stats

  • 299,086 hits

Arsip

Suported By
Dari Santri Untuk Indonesia
eramuslim
Munajahku
Blognya Pecinta Sastra
Suara Konsumen
Jakarta Baycity
Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik
Jakarta Baycity
GrowUrl.com - growing your website

RSS TARUMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Saatnya Menatap Dunia

Klik tertinggi

  • Tak ada
ping me to technorati
website stats
Bangkit Basmi Korupsi

Poling Bulan Ini

%d blogger menyukai ini: