SastraHolic

al-Minhaj ; sebuah jalan menuju cinta

Posted on: April 3, 2008

oleh : windi iskandar

Pekat malam terasa temaram diterangi binar-binar mata para santri yang berhamburan keluar dari masjid ba’da ta’lim selepas sholat isya. Hari ini, kamis malam jum’at seperti biasa “Gus Mad” membacakan kepada santri kitab “al-Adzkar” karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawiy ad-Dimasyqiy atau yang familiar ditelinga santri dengan sebutan Imam Nawawiy. Besok malam yang dikaji adalah Ihya Ulumuddin-nya Imam Gozali. Adapun sabtu malam minggu, adalah malam yang paling ditunggu para santri, bukan karena ta’lim selepas isya libur, tapi tiap malam minggu Gus Mad membacakan Syiarul A’lam-nya Ibnu Hisyam kitab biografi para Mutiara Cendikia ummat ini, yang membuat suasana ta’lim terkadang santai dan menyenangkan dipenuhi senyum, terkadang begitu hening yang terdengar hanyalah suara hidung seperti orang yang kena flu akibat menahan tangis, -banyak memberikan inspirasi-. Hari minggu, kitab Ibanah-nya Imam Asy’ariy, dahulu sebelum al-Marhum Gus Zein wafat, minggu malam senin Gus Zein -ayahanda Gus Mad- selalu membacakan kepada santri Aqidatul Awwam plus Rub’ul Aqo’id yang terdapat pada Ihya Ulumuddin, setelah beliau wafat Gus Mad menggantinya. Senin dan Rabu, Kifayatul Akhyar-nya Imam Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini as-Syafi’iy, yang beberapa minggu yang lalu telah khatam dibaca, entah khataman yang keberapa? dan yang telah khatam juga kitab Fathul Mu’in dan I’anatut Tholibin. Kemudian Gus Mad memilih Roudhotut Tolibin-nya Imam Nawawiy sebagai gantinya, ketika ku tanya apa pertimbangannya, beliau berkata: “sudah saatnya santri mengenal luas Mazhab Syafi’iy….”. Adapun selasa adalah kitab Jurumiyah yang masih langgeng menemani santri dari generasi ke generasi.
Sudah tiga generasi ta’lim harian selepas isya memakmurkan masjid ini, Masjid Jami’ al-Minhaj namanya serupa dengan nama ma’had kami yang diambil dari nama kitab buah karya Imam Nawawiy. Nama tersebut seakan-akan menunjukan identitas ma’had kami yang bermainstream madzhab Imam Syafi’iy, madzhab mayoritas penduduk negeri ini yang konon warna fiqih islamnya dipengaruhi oleh para da’i dari Gujarat, nun jauh di India sana.
“Sama sekali bukan karena ta’asub atau taklid pilihan nama dan mainstream ma’had kami, tapi semata-mata adalah loyalitas dan kepercayaan kami, kepada mereka para Ulama Salaf Syafi’iyyah sebagai pilihan kami dalam menginterpretasikan serta menafsirkan al-Qur’an dan Sunnah…” kata Gus Mad dengan tegas ketika acara temu alumni ma’had. Sebagai moderator acara, masih ku ingat kata-kata itu beliau ucapkan sebagai jawaban atas pernyataan kritis seorang alumni tentang pilihan mainstream ma’had adalah perbuatan taklid dan ta’asub yang dicela oleh Islam.
Pendirinya adalah Kiai Ahmad Fathul ‘Alim yang dikenal dengan Kiai Fatah, seorang kiai besar nahdiyin di jamannya. Setelah Kiai Fatah wafat, ma’had dipegang oleh anak bungsunya Zainal Abidin, Gus Zein begitulah santri dan warga nahdiyin memanggilnya, keutamannya dimata warga nahdiyin tidak kurang dan tidak lebih seperti ayahnya. Gus Mad adalah generasi ketiga pemegang ma’had ini, nama lengkapnya adalah Ahmad Badru Zaman. Konon dahulu ketika masa-masa mondok, teman-temannya memanggil dengan sebutan Gus Man namun sebutan Gus Mad jadi lebih tenar entah kenapa, “padahal sebutan Gus Man lebih enak ditelinga” kenang beliau sambil tersenyum kepadaku. Gus Mad adalah salah satu dari sedikit sekali kiai jawa yang begelar doktor. Pendidikan dasar sampai menengahnya diselesaikan di ma’hadnya sendiri, dibawah asuhan orang tuanya, kemudian hijrah ke Jakarta untuk menyelesaikan kuliah syariah di LIPIA, dan karena kecerdasan yang dikaruniakan Allah kepadanya-lah yang akhirnya membawa beliau sampai di kota kaum Anshor. Beliau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Ummul Quro-Madinah, nah… disinilah gelar doktor bidang tauhidnya beliau raih.
Gus Mad mau tidak mau harus melanjutkan mengurus ma’had kami, karena Gus Zein hanya memiliki dua putra, kakaknya Gus Im -Ahmad Imaduddin- menikah dengan seorang putri kiai besar di Pati dan Gus Im lebih tertarik melanjutkan tongkat estafet ke-kiai-an mertuanya disana. Berbeda dengan Gus Im, Gus Mad memilih pendamping hidupnya bukan dari silsilah kiai, istrinya Nyai Iyah -Robiatul Adawiyyah- hanya seorang putri petani yang sekampung dengannya namun garis takdir mempertemukan mereka berdua di Jakarta, bukan di tempat asalnya. Kisah romantis itu dimulai, ketika Gus Mad kuliah di LIPIA, beliau mengabdi di sebuah masjid kantor di Jakarta, singkat cerita, masjid membutuhkan pengajar wanita untuk mengajarkan al-Qur’an kepada para karyawati di sore hari selepas ngantor, akhirnya tidak banyak pikir Gus Mad langsung membuat iklan dan menempelkan di tembok didekat kelas putri LIPIA. Ada berapa akhwat yang melamar namun Nyai Iyah-lah yang dipilihnya sebagai pendamping dakwahnya di masjid tersebut, dan akhirnya beliau nobatkan gadis tersebut sebagai pendamping dakwahnya untuk sepanjang hayatnya

¤¤¤

Teettt….suara bel memecah riuh malam, meredam suara jangkrik yang bersautan serta obrolan santri dan gelak tawa mereka sedari tadi, jam 21:00 waktunya para santri masuk ke kamarnya masing-masing. Mereka mulai berhamburan, cukup 10 menit saja dan hening pun tiba. Tangga dan pelataran masjid, mading di depan kantor, serta balai-balai kayu di bawah pohon manggah sudah steril dari santri, hening! hanya suara jangkrik yang kembali terdengar melantunkan simphony gulita malam, diselai deru motor yang sesekali melewati muka ma’had.
Malam ini giliranku berjaga. Seperti biasa penggalan malam pertama, akan aku habiskan bersama Gus Mad di ruang perpustakaannya, sampai tengah malam nanti baru kemudian mulai berjaga. Jika beliau sedang santai biasanya aku shering kepada beliau, meminta pendapat dan rekomendasi, atau terkadang hanya mendengarkan cerita dari pengalaman-pengalaman beliau. Aku adalah santri yang dalam masa pengabdian kepada ma’had, beberapa bulan lagi pengabdianku selesai dan aku harus kembali ke kampung halamanku di Jakarta, membawa status sosial baruku yaitu “santri”, ahh…sungguh sebuah beban moral yang besar di dunia dan akhirat. Oleh karena itu aku senang jika tiba giliran jagaku, karena aku bisa shering tentang dakwah di jakarta kepada Gus Mad, namun… tidak untuk malam ini! Malam ini aku membawa misi dari teman-temanku. Mereka mengutusku untuk meminta izin menyelenggarakan maulid Nabi di ma’had kami kepada Gus Mad.
Sudah 2 tahun ma’had kami tidak merayakan peringatan maulid, bukan karena tidak ada dana atau kekurangan kader akan tetapi Gus Mad tidak memberikan izin, padahal perayan maulid ma’had kami terfavorit dibandingkan ma’had-ma’had yang lain. Pertama kali ketika Gus Mad tidak memberi izin, kami mengira itu hanya kebijakan biasa dari seorang pimpinan ma’had, yang terbesit di hati kami mungkin hal tersebut karena alasan klasik seperti dana dan tetek bengek lainnya. Dikali yang kedua barulah kami tahu bahwa Gus Mad punya pandangan yang berbeda tentang perayaan maulid. Bukan hanya kebiasaan maulid yang menghilang, acara istighosah di malam jum’at ba’da isya-pun diganti dengan ta’lim seperti malam-malam lainnya. “Tidak pernah dicontohkan oleh Nabi s.a.w dan para sahabatnya” jawabnya ketika kami tanyakan kenapa, batin kami hanya bergumam: “muhammadiyyah..!!!”.
Yap…ma’had kami memang agak berubah setelah dipegang Gus Mad, walaupun mainstream pada tataran fiqh masih kental NU-nya, seperti kunut subuh, adzan jum’at yang dua kali, dzikir ba’da sholat, basmalah pada sholat jahriyyah serta yang lainnya, akan tetapi tahlil, istighosah dan maulid sebagai warna khas NU kini menghilang. Perihal tahlil telah dibahas beliau ketika pembacaan kitab al-Adzkar sampai kepada bab “maa yanfa’ul mayyita min qouli goiyrihi” (hal yang bermanfaat bagi orang yang mati dari ucapan orang yang masih hidup), adapun istighosah di bahas pada bab sholat istisyqo (sholat minta hujan). Hujjahnya kuat, logikanya tajam dan seluruh bantahan terhadap kedua ritual diatas disarikan langsung dari kitab-kitab madzhab syafi’iy sendiri, yang membuat kami -sepakat atau tidak sepakat- bungkam terdiam . Adapun prihal maulid beliau belum merincinya, baru hanya sebatas dalil umum dari hadits Rosulullah s.a.w :
“barangsiapa melaksanakan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”
dan kamipun diam-diam mengumpulkan dalil-dalil pembolehan maulid, mulai dari latarbelakang munculnya yang konon dinisbatkan kepada Salahuddin al-Ayyubi, maslahah mursalah sampai qoidah fiqh “al-Adah muhakkamah” telah kami kaji, puncaknya adalah malam ini, namun musibahnya… kenapa harus aku yang menjadi delegasi dari kubu teman-temanku .
Malam semakin larut, dingin mulai menggigit kulit. Resleting jaket aku tarik keatas sampai ke batas daguku, kumasukan kedua telapak tangannku kedalam kantong jaket dalam-dalam, aku harus menjaga konsentrasi panas tubuhku, kalau tidak… bisa-bisa besok pagi dikerokin karena masuk angin. Kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan dan…misipun dimulai…”Assalamu’alaikum” sapaku setelah kuketuk pintu.
“wa’alaikum salam, masuk le’, ” sahut Gus Mad agak kencang dari dalam. Ku dorong pintu pelan tapi pasti, sayup-sayup suara murottal syaikh Musyari Rosid masuk ke telingaku beriringan dengan geseran pintu yang kubuka. Otak-ku spontan bekerja memproduksi asumsi-asumsi dari segala keadaan yang terindrai oleh pancaku…”pasti beliau sedang menerjemah kitab! Tebak batinku. Karena suara murottal tersebut berasal dari laptopnya”
“sedang menerjemah Gus?” kataku sambil menggeret kursi lalu duduk di hadapannya.
Ia tersenyum tak menjawab, lagipula memang aku tak membutuhkan jawaban karena memang pertanyaanku barusan hanya sekedar basa-basi untuk memulai pembicaraan, dan hal inilah yang menjadi kelebihanku yaitu selalu bisa memulai pembicaraan yang membuatku cepat familiar dengan siapa saja wabil khusus dengan para ustadz di ma’had.
“siapa yang didepan le’…?! Tanyanya. Ada kalimat yang dibuang dari pertanyaannya, maksudnya adalah siapa yang jaga di pos depan.
“Hadi dan Kang Mahrus…” jawabku. “Gus….?” lanjutku,
“mm…” gumamnya sambil dengan tajam memandangi laptopnya.
“Gus…para mu’alim berniat mengadakan maulid….”
“hm..m…” gumamnya lagi, tidak berubah dari posisinya yang tadi, hanya telapak tangannya saja yang bergerak lincah menyeret-nyeret mouse kesana-kemari.
“mereka meminta izin kepada Gus Mad untuk menyelenggarakannya di ma’had, ya…hitung-hitung membangkitkan kecintaan santri kepada Nabi Muhammad…boleh Gus..?””hitung-hitung apa le’…?tanyanya seraya ingin memastikan.
“hitung-hitung membangkitkan kecintaan santri kepada kanjeng Rosul…,kan cinta kepada Rosul disyariatkan oleh Gusti Allah…” jawabku pasti dan sedikit sok tahu.
Ia terdiam sebentar kemudian merapatkan lcd laptopnnya ke badan laptop. Sayup-sayup indah qiroat Syaikh Musyari masih kudengar, menandakan laptop tersebut belum dimatikan. Ia agak menyandarkan tubuhnya ke kursi, sepertinya jawabanku tadi memberikan efek kepadanya.
Ia mengambil nafas dalam kemudian berkata: “tidak ada satupun orang di jagat ini yang berhak dicintai kecuali kanjeng Nabi, le’…” aku merasa lega, dan berprasangka baik bahwa beliau akan mengizinkan.
“kamu kenal Umar le’…?” lanjutnya “beliau adalah orang yang paling terbaik dari ummat ini setelah Abu Bakar. Beliau adalah orang yang paling mencintai Kanjeng Rosul. Suatu hari beliau nyatakan cintanya tersebut, beliau berkata: “wahai Rosulullah…!tidak ada yang paling kucintai didunia ini kecuali engkau..,”
“walau ayah dan ibumu wahai Umar…?tanya Rosul.
“walau ayah dan ibuku! kecuali diriku sendiri…” jawab Umar.
Rosul berkata: “belum! belum! Wahai Umar…sampai aku lebih engkau cintai dari apapun walaupun itu dirimu sendiri..”
Umar berkata: “baik wahai Rosulullah..!! engkau adalah orang yang paling kucintai walaupun dari diriku sendiri”
“kamu tahu le’…?tidak ada satupun dari umat ini yang meragukan cinta Abu Bakar kepada Rosulullah, kecuali syi’ah…le’…” lanjutnya lagi.
“beliaulah yang menemani Rosulullah hijrah ke Madinah” ia terdiam agak lama seperti berpikir lalu mulai berkata dengan suara pelan datar: “ketika…turun ayat perintah hijrah dari Makkah ke Madinah, Rosulullah memerintahkan kaum muslimin untuk berhijrah, maka berhijrahlah sebagian kaum muslimin. Di Makkah hanya tinggal Rosulullah dan beberapa orang sahabat, diantaranya adalah Abu Bakar. Rosulullah sendiri menanti perintah hijrah untuk dirinya guna segera menyusul kaum muslimin yang telah sampai duluan di Madinah. Perintah pun turun, Rosulullah segera memberi tahukan kabar tersebut kepada Abu Bakar, mendengar hal tersebut, Abu Bakar dengan sigap berkata: “adakah engkau kutemani wahai Rosulullah..?” -suara Gus Mad mulai meninggi- “pernyataan tersebut spontan mengalir dari Abu Bakar tanpa lagi harus berpikir akan keluargannya, bagaimana nasib mereka sepeninggalannya. Tidak lagi mempertimbangkan usahanya yang telah lama dirintisnya di Makkah, kebun-kebunnya, seluruh hartanya bagaimana nanti?dan bagaimana?. Yang beliau pikirkan hanyalah bagaimana caranya ia bisa menemani kekasih yang sangat ia cintai selamat sampai di Madinah.”
“Utsman dan Ali juga sama le’….kaum Muhajirin juga! tidak lagi diragukan cintanya kepada Baginda…” lanjut Gus Mad…
“tapi marilah sejenak kau dengarkan kisah cinta kaum Anshor kepada Baginda Rosul…” pandangan Gus Mad ke langit, janggut khas indonesia yang menjulur dari dagunya sesekali beliau usap.
“ketika quraisy makkah bersepakat untuk menghancurkan Rosul beserta kaum muslimin di Madinah, mereka mengumpulkan bala tentara dari putra-putra terbaik mereka yang jumlahnya mencapai 1000 tentara. Adapun Rosul di Madinah dilanda keresahan yang sangat, belum ada janji yang turun dari Allah mengkabarkan kemenengan mereka, sedang pasukan quraisy mulai bergerak menuju sumur Badr. Mau tidak mau Rosul harus mengambil keputusan, PERANG! Demi keutuhan ummat.Untuk membagi keresahan hatinya, Rosulullah mengadakan musyawarah bersama para sahabat. Beliau beberkan semua pandangan politik dan militernya serta tak lupa konsekuensi negatif dan positif jika perang akhirnya berkecamuk. Kini giliran sahabat memberikan pendapat. Berdirilah Abu Bakar, Umar dan al-Miqdad secara bergantian memberikan pendapat dan suport terbaik mereka kepada Rosul, dan ketiganya adalah pemuka dari Muhajirin. Namun seraya masih ada yang menjanggal di hati Rosul untuk segera mengumandangkan perang. Ia meminta yang lain untuk memberikan pendapat. Berdirilah Sa’ad bin Mu’adz mewakili kaum Anshor kemudian berkata: “sepertinya engkau menginginkan kami kaum Anshor, wahai Rosulullah..?!” Sa’ad paham akan hal tersebut, bukan karena Rosulullah tidak puas dengan pendapat Abu Bakar, Umar serta al-Miqdad, namun Rosul hanya ingin mengetahui masihkah cinta dan loyalitas Anshor kepada beliau disaat kritis seperti ini?!
Dengan tegas Sa’ad berkata: “Sungguh kami telah beriman kepadamu. Kami mengakui kebenaranmu. Kami bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran! Dan kami berikan kepadamu untuk itu semua, janji kami serta sumpah kami untuk mendengar dan ta’at kepadamu. Lakukanlah apa yang engkau ingin lakukan wahai Rosulullah..! Demi Tuhan yang telah mengutusmu membawa kebenaran!!! Jikalau kau mengajak kami mengarungi lautan maka kami arungi lautan tersebut bersamamu, tidak ada satupun dari kami yang tidak mengarunginya. Kami suka jikalau esok hari menghadapi musuh bersamamu. Sesungguhnya kami adalah kesabaran dikala perang, kami adalah kesetiaan disaat perjumpaan. Kami berharap Allah menjadikan kami sebagai penyejuk matamu, maka….mari bergeraklah besama kami diatas keberkahan Allah (menuju perang)…!!!”
“Subhanallah….sungguh cinta dan kesetiaan yang tak ternilaikan….” desah Gus Mad.

Aku mulai hanyut kedalam emosi cinta yang dimaksud oleh Gus Mad, dadaku terkadang sesak dan sesekali lapang, meluncur mengikuti alur naik turun suara Gus Mad. Beliau belum mau berhenti mengisahkan kilauan untaian-untaian cinta para sahabat kepada Rosulullah. Beliau bercerita tentang dahsyatnya perang Uhud, menjelaskan bagaimana kilauan cinta para sahabat benar-benar bercahaya disana, disaat mereka -para sahabat- rela dada-dada mereka, punggung-punggung mereka, bahkan seluruh tubuh mereka menjadi baju besi bagi Rosulullah, mentamengi Beliau dari goresan-goresan pedang, hujaman-hujaman anak panah serta hunusan tombak yang memburunya.
“bayangkan olehmu le’…! Adakah cinta yang semisal mereka!” sentak Gus Mad. Sepertinya ia terbawa juga. Aku tak tahan lagi menahan mendung mata ini, dadaku bergemuruh bagai langit yang berat menahan air hujan.
Gus Mad belum mau berhenti juga, padahal aku sudah menunduk mengumumkan ke kalahanku, aku sudah menangkap apa intisarinya, namun Gus Mad terus bercerita, membawaku terbang ke desa-desa di Madinah 1400 tahun lebih yang lalu, ketika orang yang paling dicintai penduduk kota tersebut berada di detik-detik kepulangannya ke hadirat Tuhan-nya, dan aku ada bersama mereka saat itu disana. Kabar wafatnya Rosululloh bagai bom atom yang mengguncangkan penduduk Madinah, seakan tak percaya bahwa ini semua terjadi, akal sehat mereka mengikarinya. Adalah Umar orang yang paling terguncang mendengar kabar tersebut. Lelaki yang dikenal sebagai singanya bangsa quraisy itu shock, ia berteriak-teriak di jalan-jalan dan pasar madinah dengan suara lantang “barang siapa yang berkata bahwa Muhammad telah wafat, akan aku penggal lehernya…!!! Sampai akhirnya Abu Bakar keluar dan berkhotban di hadapan kaum muslim: “barang siapa diantara kalian yang menyembah Muhammad s.a.w maka sesungguhnya ia telah wafat. Dan barang siapa diantara kalian yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tak akan mati” kemudian beliau membaca ayat ke 144 dari surah Ali Imron.
“Dan Muhammad hanyalah seorang Rosu sebelumnya telah berlalu bebera rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak merugikan Allah sedikitpun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”
Wajah-wajah kaum muslimin terlihat kosong, seakan tidak pernah mendengar ayat yang dibaca Abu Bakar telah turun kepada mereka sebelumnya. Umar ambruk ketanah seakan lutut kokohnya itu kehilangan kesetabilannya.
Aku masih mengawang disana, ketika hari-hari setelah wafatnya Rosulullah yang menyisahkan sejuta kesedihan bahkan lebih, hari-hari dimana sebagian para sahabat mulai meninggalkan Madinah, lari dari kesedihan! Mereka lelah mengisakan tangis, mereka tak kuat lagi melinangkan air mata, karena setiap sudut kota Madinah mengingatkan mereka kepada kekasih yang mereka cintai, kekasih yang telah banyak berkorban untuk mereka, kekasih yang hidupnya telah ia gadaikan demi kebahagian mereka di dunia dan akhirat, kekasih yang di penghujung ajalnya masih sempat merisaukan mereka, kekasih yang dahulu mereka timpahi batu namun ia balas dengan doa dan kebaikan.
Sampai saat masa ke khalifahan Umar, ketika itu para sahabat berkumpul di Baitullah untuk menunaikan haji, diantara mereka ada Bilal bin Rabah sang muadzin Rosulullah. Umar memanggilnya dan memintanya untuk mengumandangkan adzan. Bilal menolak dan berkata:”demi Allah aku telah bersumpah pada diriku untuk tidak mengumandangkan adzan setelah Rosulullah wafat…!” Umar memaksa dan memerintahkannya agar mendengar dan ta’at. Dan Bilal tidak dapat membantah ia pun mengumandangkan adzan-nya. Suara adzan yang merdu itu pun menggemai Baitullah, suara adzan yang merasuk kedalam qolbu kemudian menyeretnya melintasi seluruh bayang indah akan Rosulullah. Suara adzan itu! yang seakan-akan menghadirkan Rosulullah, berdiri disamping Bilal menjawabi tiap untaian merdu adzannya. Dan demi Allah!!! tidak seorang pun yang hadir pada saat itu kecuali air matanya berlinang, teringati Rosulullah.
Kuhapus genangan air mataku yang hampir jatuh dengan ujung jari. Malu kalau sampai ketahuan Gus Mad.
“cinta para sahabat sampai kapanpun takkan tertakarkan oleh kita le’…, mulainya lagi. “karena mereka lebih kenal Kanjeng Rosul dari pada kita. Namun biarpun sebegitu besarnya cinta mereka, tidak ada satupun diantara mereka yang merayakan hari kelahirannya atau memperingati hari kematiannya. Tidak ada diantara mereka memperingati hari mi’rajnya ke sidrotul muntaha dan tidak juga hari pengangkatannya sebagai Rosul. Kenapa le’…?karena mereka paham hakikat cinta yang sebenarnya. Cinta kepadanya bukan sekedar diperingati sekali setahun, bukan pula hanya sekedar apresiasi yang dibungkus hura-hura belaka! mereka memahami bahwa cinta kepadanya adalah dengan melaksanakan seluruh sunnahnya, menjauhi seluruh peringatan darinya, serta berkorban demi risalah yang dibawanya”
Aku terdiam dan masih menunduk sedari tadi, kata-kata Gus Mad semakin mensolidkan perasaanku. Beliau pun terdiam tak terdengar melanjutkan wejangannya. Cukup lama kami berdua pada posisi ini, sampai….
“le’…bukannya kamu ditunggu sama Mahrus dan Hadi,…? tanya Gus Mad memecah suasana. Ku angkat kepalaku untuk melihat situasi sebenarnya. Kulihat lcd laptop Gus Mad sudah bediri tegak seperti semula, mouse optick yang berkelap-kelip itu mulai menari kesana kemari dan pandangan wajah Gus Mad menyorot tajam lcd itu.”saya pamit Gus…!” bangun dari kursi kemudian mencium tangannya dan meluncur keluar.
Hatiku galau, semrawut dengan apa yang harus ku simpulkan. Maulid sangatlah berarti bagiku tapi Gus Mad juga benar kalau cinta bukan sekedar apresiasi dzohir belaka layaknya cinta para sahabat. Siapa yang menganggap Gus Mad tidak cinta kepada Rosul? Tidak ada satupun santri yang beranggapan seperti itu. Bahkan beliau adalah perwujudan Rosulullah bagi kami, sifat-sifat dan perilakunya adalah sauri tauladan bagi kami di ma’had. Tidak ada keraguan bagi kami akan hal tersebut! Bahkan menurut kami ia lebih baik cintanya kepada Rosul ketimbang para kiai, ustadz ataupun habib yang cuma pandai berkoar-koar di mimbar saat perayaan maulid yang membahas tentang bagaimana cinta kepada Rosulullah.
Aku bimbang! Didepanku ada dua jalan. Aku harus memilih salah satunya! Dengan yakin aku memilih jalan yang menuju ke masjid, aku berfikir aku harus memulai cintaku dari sekarang! Maka jalan ke masjid lah yang aku pilih. Aku hendak mengamalkan sunnah Rosul yang tak pernah ia tinggalkan semasa hidupnya yaitu sholat malam. Ya…hitung-hitung menenangkan diri sebelum aku menghadapi teman-temanku untuk menyampaikan apa yang telah aku dapati dari Gus Mad, khususnya Kang Mahrus dan Hadi yang menungguku di pos depan sedari tadi, pasti mereka berdua gelisah menunggu hasil dari misi kita bersama….

3 Tanggapan to "al-Minhaj ; sebuah jalan menuju cinta"

assalamu’alaikum, komentarnya dong…?please
oiya kalo bisa cantumin alamat aslinya, sukron

aduuuh makasih ya pak udah di tampilin…..
tapi ahsan kalo alamat asli blog ana ikut di munculin.
keep posting n jaya sastra indonesia….

afwan sob soalnya waktu itu ana lupa alamat aslinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Indonesia Bisa

Bannerku

Picisan Merangkai Kata

Anda Pengunjung ke

Demi Massa

April 2008
S S R K J S M
    Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Aku seperti majnun dengan kemiskinan hatiku, yang telah tiada berdahan karena aku tidak punya kekuatan untuk memperebutkan cinta Tuhan Di setiap siang dan malam aku berusaha untuk membebaskan diriku Dari kungkungan rantai cinta yang telah lama memenjarakanku

Blog Stats

  • 299,086 hits

Arsip

Suported By
Dari Santri Untuk Indonesia
eramuslim
Munajahku
Blognya Pecinta Sastra
Suara Konsumen
Jakarta Baycity
Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik
Jakarta Baycity
GrowUrl.com - growing your website

RSS TARUMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Saatnya Menatap Dunia

Klik tertinggi

  • Tak ada
ping me to technorati
website stats
Bangkit Basmi Korupsi

Poling Bulan Ini

%d blogger menyukai ini: