SastraHolic

KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA

Posted on: April 2, 2008

Satu lagi, polemik yang tengah menghangat (dihangatkan?) dalam Sastra Indonesia. Ini adalah tulisannya Yonathan Raharjo yang dikutip dari millis Sastra Pembebasan. Tentang kudeta?

Rabu 12 Maret 2008, saya menjadi saksi terhadap sebuah upaya KUDETA SASTRA CYBER INDONESIA yang dilakukan para aktivis sastra di internet yang sebagai pembicara mestinya mampu secara arif memaparkan perjalanannya. Acara itu diselenggarakan oleh Teater Utan Kayu yang semula mengundang Akmal Nasery Basral dan Hasan Aspahani sebagai pembicara, namun karena suatu hal Hasan diganti Mikael Johani dan Cunong Nunuk Suraja.

Sebagai moderator, Anya Rompas tidak memberikan waktu yang sama pada 3 pembicara. Bahkan terkesan tidak mengakomodasi ke 3 pembicara secara sama kuat.

Pembicara Cunong Nunuk Suraja tidak punya kesempatan luas untuk membicarakan tesisnya. Bahkan contoh-contoh puisi digital yang diteliti hampir tidak ditunjukkan sama sekali sampai akhir acara. Di akhir acara, saat sesi tanya jawab hampir usai, saya sebagai penanya pun minta Cunong untuk menunjukkan dan memutar CD sastra digital anak-anak cybersastra tahun 2002-an, bahwa yang dicontohkan oleh Pembicara Akmal Nasery Basral dengan puisi-puisi digital dari luar negeri sudah dibuat oleh anak-anak cybersastra tahun 2002-an ini.

Dengan berbagai bahan, referensi dan contoh-contoh tayangan yang disampaikan, Akmal seolah menjadi pelegitimasi bagaimana sebetulnya sastra cyber itu. Padahal yang dicontohkan Akmal Nasery Basral dengan sastra digital luar negeri, tak beda dengan apa yang dilakukan secara lebih
sederhana oleh anak-anak cybersastra itu. Bedanya, yang comotan luar negeri itu hanya lebih punya keseriusan dengan musik, dan lain-lain efek.

Sebetulnya sastra digital-nya versi Akmal ini pun tak ada hubungannya sama sekali dengan internet. Sama halnya dengan sastra ‘power point’ yang dibuat anak-anak cybersastra itu. Hanya karena puisi-puisi digital itu dipublikasikan lewat internet dan dinikmati khalayak, maka Akmal menyebut bahwa hal semacam inilah yang sesungguhnya merupakan sastra cyber itu, sedangkan yang dilakukan teman-teman yang mengaku sebagai cyborg-cyborg itu hanyalah memindahkan bahan tulisan sastra pada media internet, sekedar media.

Tudingan Mikail Johani bahwa anak-anak cybersastra hanya sebatas menggunakan media internet sebagai media sosiliasi saja dan media perlawanan terhadap sastra cetak, bahkan menganggap Saut cs tidak mampu membuat puisi digital macam yang ditunjukkan oleh Akmal dengan contoh dari luar negeri, juga contoh-contoh puisi cyber yang dibuat oleh Mikail adalah sebuah contoh betapa tidak terakomodirnya tesis Cunong untuk meraih S2 Sastra Indonesia
di UI yang pengujinya Prof Dr Sapardi Djoko Damono.

Tudingan bahwa sastra cyber masih terbatas untuk sosialisasi dan sekedar memindahkan sastra tulis di media internet adalah tudingan serius yang telah mengebiri pergerakan sastra digital yang dilakukan oleh anak-anak cyber yang mengklaim dirinya sebagai cyborg-cyborg, yang sayang diuraikan oleh Cunong sebagai mengalami stagnasi, tidak melanjutkan apa yang dilakukan dengan
puisi digital metode power point yang dilakukan oleh Nanang Suryadi, Asep Sambodja, TS Pinang, Sihar Ramses Simatupang dll yang sampai acara selesai hampir tak ditampilkan oleh Cunong Nunuk Suraja.

Sangat lain dengan apa yang dipamerkan oleh Mikail Johani dan Akmal Nasery Basral yang begitu leluasa memamerkan karya-karya yang mereka bawa, keteledoran presentasi Cunong Nunuk Suraja mestinya menyadarkan bahwa:

Bila pelaku sastra digital awal Indonesia tidak segera menyadari ada pandangan yang betul-betul meremehkan mereka (apalagi dengan pernyataan-pernyataan Mikael Johani yang tendensius tidak mengakui kemampuan Saut Situmorang dkk dalam membuat sastra digital selain sebagai media
perlawanan terhadap hegemoni sastra koran), maka…
Semakin jelas sebetulnya dugaan, skeptisime, atau kekhawatiran atau ramalan yang muncul akan adanya politik sastra di acara itu akan betul-betul terjadi, bukanlah hal yang mengada-ada. Apalagi ternyata Mikail Johani sendiri yang pada awal beredarnya undangan acara Teater Utan Kayu (TUK) ini membela habis-habisan Saut Situmorang untuk jadi pembicara di acara itu ternyata malah berbalik melecehkannya di acara itu.

Cunong pun mestinya punya daya tawar untuk terfokus pada tesisnya dan contoh puisi digital karya anak-anak cybersastra itu, bukan malah mengobral cerita kurang sedap tentang sejarah milis penyair dengan yayasan multimedia sastra, milis sastra pembebasan. Padahal kisah kelabu ini kaitannya dengan sastra digital/ sastra cyber hanyalah dalam hal perilaku konsistensi untuk
berkarya oleh para anak yang mengaku sebagai cyborg-cyborg yang bahkan oleh Mikail Johani semula juga disanjungkan kepada mereka sebelum ia bersama Cunong Nunuk Suraja jadi pembicara menggantikan Hasan Aspahani.

Apakah diskusi semalam ini benar-benar merupakan langkah awal bagi TUK untuk memulai legitimasi sastra digital, sastra cyber dengan menumbangkan cyborg-cyborg awal di Indonesia? Dengan segala kelebihan dan kekurangan disertai komentar-komentarnya yang gegabah, ketiga pembicara mengukuhkan diri punya dosa karena masih mencampuradukkan dua kejadian sastra internet selama ini antara:
internet sebagai media publikasi dan sosialisasi
karya sastra digital itu sendiri, seperti yang dibuat anak-anak cybersastra 2002

Dapatkah Anda cari, di mana letak kudeta itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Indonesia Bisa

Bannerku

Picisan Merangkai Kata

Anda Pengunjung ke

Demi Massa

April 2008
S S R K J S M
    Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Aku seperti majnun dengan kemiskinan hatiku, yang telah tiada berdahan karena aku tidak punya kekuatan untuk memperebutkan cinta Tuhan Di setiap siang dan malam aku berusaha untuk membebaskan diriku Dari kungkungan rantai cinta yang telah lama memenjarakanku

Blog Stats

  • 299,086 hits

Arsip

Suported By
Dari Santri Untuk Indonesia
eramuslim
Munajahku
Blognya Pecinta Sastra
Suara Konsumen
Jakarta Baycity
Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik
Jakarta Baycity
GrowUrl.com - growing your website

RSS TARUMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Saatnya Menatap Dunia

Klik tertinggi

  • Tak ada
ping me to technorati
website stats
Bangkit Basmi Korupsi

Poling Bulan Ini

%d blogger menyukai ini: