SastraHolic

Kisah Sungai dan Lautan

Posted on: April 1, 2008

Pada suatu hari terjadi hujan lebat sekali dimusim gugur. Semua daun yang rontok hanyut ke sebuah sungai yang sangat lebar. Demikiannya lebarnya sungai itu sehingga dari tepi yang satu, orang tidak bisa membedakan antara sapi dan kuda yang ada di tepi yang lain. Karena hujan demikian besar, maka air sungai itu meluap dan menimbulkan arus deras ke hilir. Lalu spirit sungai itu mulai tertawa bangga karena semua keindahan alam semesta pada akhirnya harus takluk dan bermuara kepadanya. Kemudian ia mengikuti aliran arus sungai itu melakukan perjalanan ke timur sehingga akhirnya sampailah ia ke samudra. Dia tertegun melihat ombak samudra yang tampaknya tak mempunyai batas. Hal itu menimbulkan perubahan dalam sikapnya.

Sambil berdesah ia berkata kepada spirit samudra, “Ada pepatah yang secara terang terangan berbunyi : mereka yang baru mendengar sebagian kebenaran akan menganggap dirinya yang paling tahu. Dan orang semacam itu adalah saya. Semula saya tidak percaya pada pepatah itu. Tapi sekarang setelah melihat sendiri ketidak terbatasan samudra, maka sikap saya berubah! Sesungguhnya apa yang saya banggakan sampai sekarang ini adalah suatu bahan tertawaan bagi mereka yang telah mencapai pencerahan paripurna.”

Mendengar semua itu, spirit samudra mulai membuka suara, “Kita tidak bisa bercerita tentang lautan kepada seekor katak yang hidup disumur, mahluk yang lingkungan hidupnya terbatas. Atau bicara tentang es pada serangga yang hidup dimusim panas saja. Sekarang kamu sendiri telah menyadari hal itu dan keluar dari lingkunganmu yang sempit melihat samudra sehingga kamu menyadari kekuranganmu. Sekarang saatnya telah tiba untuk berbicara denganmu tentang prinsip yang besar.”

Di kolong langit ini tak ada sesuatu yang berhubungan dengan air yang besar dari pada samudra. Semua arus bermuara terus menerus tak henti hentinya, tapi samudra tak pernah meluap. Meskipun secara terus menerus dihisap, samudra tak akan pernah kosong atau kering. Musim semi ataupun musim gugur, tak akan membawa perubahan pada samudra. Banjir dan kering sama sekali tak dikenalnya. Meskipun demikian samudra tidak pernah mau berusaha untuk menyombongkan diri, karena dia sadar sepenuhnya bahwa semua itu adalah anugrah dari alam semesta. Dan di dalam jagad raya ini kita adalah sekecil kerikil atau hanya tanaman kecil yang berada disuatu gunung yang besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Indonesia Bisa

Bannerku

Picisan Merangkai Kata

Anda Pengunjung ke

Demi Massa

April 2008
S S R K J S M
    Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Aku seperti majnun dengan kemiskinan hatiku, yang telah tiada berdahan karena aku tidak punya kekuatan untuk memperebutkan cinta Tuhan Di setiap siang dan malam aku berusaha untuk membebaskan diriku Dari kungkungan rantai cinta yang telah lama memenjarakanku

Blog Stats

  • 299,086 hits

Arsip

Suported By
Dari Santri Untuk Indonesia
eramuslim
Munajahku
Blognya Pecinta Sastra
Suara Konsumen
Jakarta Baycity
Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik
Jakarta Baycity
GrowUrl.com - growing your website

RSS TARUMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Saatnya Menatap Dunia

Klik tertinggi

  • Tak ada
ping me to technorati
website stats
Bangkit Basmi Korupsi

Poling Bulan Ini

%d blogger menyukai ini: