SastraHolic

Part 1

“La… Aku sayang kamu. Aku peduli sama kamu. Sekelam apa pun masa lalu kamu, bagi aku kamu tetap bidadari dalam hidupku. Jangan pernah lagi ngomong kalo kamu ga pantas buat aku!” Aku terseguk dalam pelukan Abdul yang kian erat. Abdulku. Laki-laki yang kukagumi. Cintanya begitu dalam kurasakan. Tapi apakah aku pantas mendapatkannya? Dia laki-laki yang bisa menjaga dirinya dengan cukup baik, sedang aku?

Terkenang hari-hari di masa kecil dulu. Saat keluargaku harus tinggal dan bekerja di sebuah rumah minum. Dimana rumah itu dipenuhi para pemabuk, juga para pelacur. Ayah hanyalah seorang satpam di sebuah perusahaan. Dan ibuku… Beliau adalah kasir di rumah minum itu. Karena ibu bekerja di situlah, maka keluarga kami diberi dua kamar gratis di salah satu bagian rumah. Sebagai akibatnya, ibu tidak menerima gaji sepeser pun dari si pemilik.

Rumah minum itu cukup luas. Terdiri dari satu rumah utama yang bertingkat. Memiliki beberapa kamar yang tentunya kalian tau akan digunakan untuk apa. Teras luas di bagian depan dan di tingkat dua. Bar di ruang utama. Dan tigabelas pondok kecil terbuka yang mengelilingi rumah utama. Di dekatnya ada sebuah danau. Aku suka memancing dan angon itik di sana. Kadang-kadang juga suka hunting telor itik yang berceceran di mana-mana. Tau sajalah gimana kelakuan para itik itu. Ah iya, ada juga pondok-pondok yang untuk menuju ke sana harus melewati labirin tanaman dulu. Sepertinya masa laluku indah ya? Benarkah?

Dulu, kami juga pernah tinggal di gudang kantor tempat ayah bekerja. Bersama roll roda alat berat yang penuh oli. Bersama tikus-tikus. Kami tinggal bersama di ruangan tanpa jendela seluas tiga kali lima belas meter. Karena itulah maka ayah dan ibu bersedia saat ditawari untuk memegang rumah minum itu. Hanya agar anak-anaknya bisa merasakan rumah yang lebih layak. Layakkah? Baca entri selengkapnya »

Aku benci sekali harus melewati persimpangan jalan itu, apalagi kalau lampu merah. Entah sudah berapa kali aku melewatinya dan memang itulah jalan satu-satunya menuju kostku. Setiap kali lampu merah, pasti akan banyak peminta-minta atau pedagang asongan yang segera menghampiri. Memang mereka tidak memaksa tetapi aku malas untuk berulangkali menolak permintaan yang sama dari mereka yaitu uang receh. Mereka menawarkan dagangannya, ada yang meminta-minta ada yang mengamen. Semuanya justru menambah keruwetan kota apalagi kalau hari siang.Siang itu aku kembali terjebak pada persimpangan yang sama. Seperti biasa para peminta-minta segera berhamburan meminta-minta kepada para pengendara. Kalau yang tidak memaksa, aku sih sudah mulai cuek, mungkin sudah tidak bisa dihindari lagi, tapi kadang-kadang ada juga yang memaksa yang terkadang membuatku kesal juga. Seorang anak kecil menghampiri pengendara sepeda motor di sampingku. Pandanganku tidak tertarik pada anak kecil peminta-minta itu, aku justru memperhatikan pengendara sepeda motor tersebut yang ternyata seorang cewek, dan sepertinya seorang mahasiswi.Kuperhatikan reaksinya, dalam hati aku berfikir, paling ia akan menolak seperti apa yang aku lakukan. Ternyata dugaanku meleset. Ia memberikan anak itu uang ribuan dua lembar, dan juga permen. Baik juga nih cewek pikirku dalam hati. Sementara itu ia kembali memusatkan pandanganya pada lampu merah.

Kulihat anak kecil itu gembira. Ia berteriak pada teman-temannya.

“Ada permen! Ada permen!” katanya dengan gembira, memanggil teman-temannya. Teman-temannya menghampirinya dan ia membaginya. Uang ribuan yang ada di dalam kaleng minta-mintanya tidak diperhatikannya.

Aku terdiam. Tak lama lampu hijau menyala dan aku segera berlalu. Lama aku berfikir. Apalah arti permen? Uang dua ribu yang didapatnya lebih banyak jika dibelikan permen yang sama. Seharusnya ia lebih gembira dapat uang ribuan tersebut daripada permen, bukankah itu yang dilakukan sebagian besar orang?

Aku tersadar, pemberian tidak harus selalu uang, dan uang belum tentu lebih berarti daripada benda yang kita pikir tidak lebih bermakna daripada uang itu sendiri.

Dalam beberapa pekan, Anisa terlihat berbeda. Tidak seperti biasanya yang riang ceria, beberapa pekan ini terlihat sangat murung. Berulang kali ketika kusapa, hanya jawaban-jawaban singkat yang kudapat. Entah karena ia mulai belajar meng-efektifkan bahasa atau enggan bicara banyak denganku, atau mungkin sedang dirundung banyak masalah atau mungkin kehidupan pribadinya sedang tidak nyaman, aku tak begitu tau. Bukan tugasku pula kan untuk mengetahui setiap masalah orang? Aku tak terlalu suka untuk tau masalah orang, karena biasanya, aku pun tak terlalu suka masalahku di ketahui banyak orang.Anisa ini sobat baik. Teramat baik bagiku, walau aku tak bisa mengatakan bahwa ia adalah yang terbaik. Dia adalah sobat yang belum teruji. Itu intinya. Bagiku, sobat terbaik adalah mereka yang pernah berantem, bermusuhan, bahkan saling pukul denganku, namun pada akhirnya kami bisa kembali menjadi sahabat lagi. Itulah bagiku yang terbaik, disaat hubungan sangat buruk, kami tau bahwa ini semua bisa diperbaiki. Kami akan punya sesuatu untuk selalu di ingat, bahwa tatkala kami berada pada situasi buruk sekalipun, kami akan tau bahwa hubungan kami ini telah teruji. Kami akan bisa mengatasinya.Berbeda dengan Anisa, tidak ada sesuatu yang luar biasa. Perkenalan kami dulu biasa saja, ketika ia dan pacarnya datang bersama seorang temanku yang mengantar mereka untuk menanyakan apakah di kostku masih ada kamar kosong, yang bukan kebetulan memang ada yang kosong. Rupanya, Anisa yang ingin mencari kost di tempatku, mengingat tempat kerjanya yang tak terlalu jauh dari lokasi kost yang aku huni. Sejak itulah aku mengenal mereka, anisa dan pacarnya, Anton, yang kemudian kuketahui adalah seorang karyawan di salah satu suplier kantorku bekerja. Jadi, ya kemudian aku mengenal mereka dengan baik, dan penuh sopan santun.Satu yang kurasa aneh, adalah mereka tidak tinggal bersama. Ini sesuatu yang agak aku jumpai di daerah tempat tinggalku ini. Entahlah, terkadang baru pacaran sekalipun, banyak orang telah menjadikannya sebagai alasan legal untuk tinggal serumah. Tak peduli dengan istilah buruk yang mereka sandang, yakni pasangan kumpul kebo. Tapi jangan tersenyum dulu, karena dugaanku pun tak salah, bahwa ternyata mereka, Anisa dan kekasihnya itu pun pernah berada di jalan itu, walau kini tidak lagi. Entah kenapa aku ga mau tau, dan persoalan ini pun kuketahui belakangan hari setelah hubuangan pertemanan ku dengan Anisa lebih baik.
Baca entri selengkapnya »

“Polisi tidak usah mencari-cari saya. Saya akan menyerahkan diri kepada polisi. Asalkan bubarkan dulu Ahmadiyah!” Hal tersebut pernah dikatakan Panglima Komando Laskar Islam (KLI) Munarman, SH, dalam acara konferensi pers di markas Front Pembela Islam (FPI) di Jalan Petamburan III Tanah Abang, Jakarta Pusat.Senin sore (10/6), SKB tentang Ahmadiyah dikeluarkan pemerintah. Senin malamnya, seperti janjinya, Munarman mendatangi Mapolda Metro Jaya dengan naik taksi untuk menyerahkan diri.

“Kalian lihat sendiri. Saya menyerahkan diri sesuai dengan apa yang telah saya janjikan. Saya bukan pengecut!” tegas Munarman, SH. Selama ini, media massa dan juga teve yang banyak menyuarakan opini kaum liberal yang tergabung dalam AKKBB menyatakan jika Munarman pengecut karena tidak menyerahkan diri tanpa melihat dan memperhatikan janji seorang Munarman, yakni akan menyerahkan diri setelah pemerintah mengeluarkan SKB Ahmadiyah. Dengan apa yang dilakukan Munarman radi malam maka hal ini mematahkan semua tudingan dan fitnah yang disebarkan oleh kaum liberal tersebut.

Penasihat Forum Umat Islam (FUI) Ahmad Sumargono, menyatakan dirinya bangga dengan sosok Munarman. “Saya jelas bangga, beliau seorang seorang kesatria, bukan pengecut, ” tandas Sumargono, sebelum menengok Munarman, di Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Senin malam.

Secara pribadi, Munarman mengapresiasi keluarnya SKB Ahmadiyah tersebut. “Walau SKB itu kurang tegas, namun esensinya telah menyatakan bahwa kelompok sesat Ahmadiyah itu memang sesat dan menyesatkan, sebab itu segala kegiatannya tersebut menjadi dilarang demi hukum, ” ujar Munarman yang mantan Ketua YLBHI ini.

Sedangkan Ahmad Soemargono menyatakan bahwa yang penting adalah aplikasinya di lapangan. “Jika kelompok sesat Ahmadiyah masih saja melakukan kegiatannya seperti yang selama ini mereka kerjakan, ya polisi harus menangkap dan memenjarakan mereka.”(rz)

Keputusan Bersama Menag, Mendagri, Jaksa Agung tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau anggota anggota pengurus Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat (nomor: 3 Tahun 2008, nomor: KEP-033/A/JA/6/2008, nomor: 199 Tahun 2008

Kesatu:

Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.

Kedua:

Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

Ketiga:

Penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum Kesatu dan Diktum Kedua dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk organisasi dan badan hukumnya.

Keempat:

Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketentraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat dengan tidak melakukan perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Kelima:

Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada Diktum Kesatu dan Diktum Keempat dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Keenam:

Memerintahkan kepada aparat pemerintah dan pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan Keputusan Bersama ini.

Ketujuh:

Keputusan Bersama ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Juni 2008, oleh

Menteri Agama Jaksa Agung Menteri Dalam Negeri.

Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke Jakarta. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di hadapan.“Abang mau beli kue?” katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.“Tidak, dik. Abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas.Dia berlalu.

Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian, saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.

Abang baru selesai makan, dik. Masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut.

Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lewat dia tanya, “Tak mau beli kue saya, bang, pak, kak, atau Ibu.” Molek budi bahasanya.

Pemilik restoran itu pun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya saat melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk, dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela, membalas senyumannya. Baca entri selengkapnya »

Sebuah kisah dimusim panas yang menyengat. Seorang kolumnis majalah Al
Manar mengisahkannya. ..Musim panas merupakan ujian yang cukup berat.
Terutama bagi muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian
kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan
akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher
kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, Cairo Alexandria; di sebuah
mikrobus. Ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk
dideskripsikan sebagai penutup aurat. Karena menantang kesopanan. Ia
duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian
seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai
keprihatinan sosial.Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk
disampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan
sesuatu yang tak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga
melanggar aturan agama dan norma kesopanan.

Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut? Dengan ketersinggungan
yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya
terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang.
“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di
neraka Tuhan Anda!! Sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak
pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah.

Detik-detik berikutnya suasanapun hening. Beberapa orang terlihat
kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda
itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung tujuan. Di terminal akhir
mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun. Tapi
mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat
tertidur. Ia berada didekat pintu keluar. “Bangunkan saja!” begitu
kira-kira permintaan para penumpang.

Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak bangun
lagi. Ia menemui ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus
beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan
bapak tua yang duduk disampingnya.

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya….
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat…
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang
buruk…

Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah…
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA semakin
dekat.

Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar…
mumpung kesempatan itu masih ada.

Sumber: Cerita dari Mesir “Pesankan Saya, Tempat di Neraka!!”

Tag:
Indonesia Bisa

Bannerku

Picisan Merangkai Kata

Anda Pengunjung ke

Demi Massa

Agustus 2016
S S R K J S M
« Jun    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Aku seperti majnun dengan kemiskinan hatiku, yang telah tiada berdahan karena aku tidak punya kekuatan untuk memperebutkan cinta Tuhan Di setiap siang dan malam aku berusaha untuk membebaskan diriku Dari kungkungan rantai cinta yang telah lama memenjarakanku

Blog Stats

  • 290,389 hits

Arsip

Suported By
Dari Santri Untuk Indonesia
eramuslim
Munajahku
Blognya Pecinta Sastra
Suara Konsumen
Jakarta Baycity
Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik
Jakarta Baycity
GrowUrl.com - growing your website

RSS TARUMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Saatnya Menatap Dunia

Klik tertinggi

  • Tidak ada
ping me to technorati
website stats
Bangkit Basmi Korupsi

Poling Bulan Ini

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.