Posted by: seyyed on: Mei 29, 2008
Situasi transportasi di Jakarta kini kacau balau. Banyak yang mogok dan banyak pula yang menaikan tari secara sepihak. Akibatnya tidak sedikit warga yang beraktifitas baik untuk bekerja, sekolah atau keperluan lain terlantar di jalanan.Sebagian warga terpaksa jalan kaki ketempat tujuan karena tidak ada angkutan umum yang melayani. Ada taksi uang tak cukup. Ada ojek juga menaikan tariff yang menguras kantong.
Disana sini, tidak sedikit penumpang bertengkar dengan sopir atau kenek karena tarifnya melonjak tinggi. Warga bertahan dengan tariff lama karena belum ada keputusan dari Gubenur DKI. Disisi lain, pelajar berebut naik truck yang lewat, mereka tak peduli bahaya berlarian di jalanan nan padat memburu truck yang melaju.Alasan sopir yang ogah narik karena jika meniakan tarif sepihak sama dengan melanggar aturan.
Resiko melanggar aturan kalau sampai tertanggap polisi atau petuga Dinas Perhubungan, izin trayek bakal dicabut.Kekacauan seperti ini biang keroknya adalah kenaikan harga bahan baker minyak, premium yang menjadi Rp 6.000/liter dan solar Rp 5.500/liter pastilah membuat biaya operasional membengkak. Apalagi jika dikait-kaitkan dengan suku cadang sampai sembako dan uang makan.Banyak sopir angkutan menaikan tariff secara sepihak atau mogok karena belum ada keputusan tarif baru dari Pemda DKI Jakarta dengan Organda. Pemda mematok kenaikan maksimal 15% sedang Organda meminta 50%. Pertemuan pun tak menghasilkan apa-apa karena saling bertahan. Karena pertemuan tak menghasilkan keputusan, kekacauan transportasi di Jakarta pun terus berlanjut.
Semestinya, sebagai ibukota Negara dan menyandang daerah khusus hal seperti ini tidaklah terjadi. Membiarkan kondisi transportasi amburadul seperti ini. Membiarkan penumpang dan sopir terus bertengkar. Membiarkan pemogokan berlangsung. Membiarkan pelajar memburu bahaya memburu truck yang lewat. Terkesan Jakarta tak pantas menjadi kota metropolitan. Apalagi kota megapolitan. Malulah dengan sejumlah daerah yang cekatan dalam mengambil keputusan.
Oleh karena itu, cepatlah pemda DKI mengambil keputusan tentang tariff baru angkutan umum. Masyarakat pasti paham bahwa tariff memang harus naik. Harapannya, Organda dan Pemda DKI sama-sama duduk dengan berpikir demi pelayanan masyrakat. Kenaikan tarif terlalu mahal tentu sangat memberatkan masyarakat, naiklah secara wajar dengan barometer awak angkutan bias pulang membawa uang untuk keluarganya, masyarakat pun demikian, penghasilannya tidak habis hanya untuk biaya transportasi.
Mei 29, 2008 pada 4:03 am
Haduhhhh I’m speechless… terlalu banyak keterpurukan…….
btw thax ya dah mampir, Terusin menulis tentang sastranya.. Aku bakal balik mbaca satu demi satu (belajar lagi)….Aku suka sastra namun blum bnyak tahu.
Oya Blognya Ta’ link, thax.. keep in touch….