SastraHolic

Kontroversi film Fitna

Posted on: April 8, 2008

FILM Fitna yang diproduksi oleh salah satu anggota parlemen Belanda, benar-benar telah menjadi ’’Fitnah” (tambah ’’h”) karena menafsirkan ayat-ayat Alquran hanya dalam penggalan belaka. Fitnah (baca: bukan Fitna), seperti ini sudah menjadi ’’tradisi” para pembenci Islam untuk menggambarkan Islam secara keliru. Kalau dulu ada Ayat-ayat Setan, kini muncul Fitna, dan tentu masih banyak lagi buku, brosur atau pengajian yang menyesatkan.

Banyak orang (Barat) yang tidak dapat membedakan antara ’’tradisi Arab” dan ’’tradisi atau ajaran Islam”. Demikian pula mereka juga tidak dapat mengaitkan antara ayat satu dengan ayat yang lainnya, karena memang niatnya lain. Bahkan banyak ustadz bahkan kiai sekalipun yang masih belum dapat menafsirkan ayat secara utuh, misalnya soal poligami. Di surat An Nisa’ memang poligami diperbolehkan asal syaratnya dipenuhi yakni ’’adil”, padahal pada ayat yang lain Allah memberitahu kita bahwa ’’manusia itu tidak dapat berbuat adil”. Ini artinya secara implisit poligami itu dilarang. Dengan kata lain, dari kalangan Islam sendiri saja, penggunaan ayat sering dipenggal, terutama untuk kepentingan pribadi dan politik, apalagi dari kalangan pembeci Islam.

Pencetus film Fitna tidak tahu sejarah Islam, manakala Rasulullah Muhammad membebaskan tawanan perang Badar pimpinan Abu Sofyan dan Abu Jahal. Yang mengejutkan rampasan perang dikembalikan kepada mereka 100 persen, bahkan Abu Sofyan menawar kepada Rasul Muhammad dari 70 onta menjadi 100 onta, dan itu dikabulkan Rasulullah. Padahal saat itu mereka sudah diborgol tinggal dihabisi, namun Muhammad berkata bahwa hari ini bukan hari pembantaian dan hari pembalasan, namun hari kasih sayang. Betapa luhurnya Muhammad ketika pasukannya yang hanya 313 orang tidak mendapat satu ekor pun rampasan perang. Apakah kejadian sejarah seperti ini menggambarkan Islam itu kejam seperti yang digambarkan Fitna?

Demikian juga fenomena terorisme, juga bukan dari ajaran Islam. Kalaupun mereka mengaku umat Islam namun tindakan mereka tidak berdasar Islam, sama halnya kalau ada satu orang kampung mencopet, apakah itu refleksi dari kebudayaan atau ajaran di kampung itu? Terorisme juga banyak motifnya, tapi jelas bukan ajaran Islam. Muhammad mengajarkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, kasih sayang, dan saling berbagi.

’Ayat-ayat Cinta’
Entah kebetulan atau tidak, film Fitna hampir bersamaan dengan Film Ayat-ayat Cinta (AAC) yang meledak di pasaran, hingga Presiden, wakil Presiden, dan para menteri rame-rame memenuhi gedung bioskop menyaksikan film tersebut.

Film Ayat-ayat Cinta (AAC) Habiburrahman El Shirazy kini meledak di pasaran. Ratusan ribu buku AAC ini laku keras dan dicetak ulang lebih dari 30 kali, belum lagi yang ’’versi bajakan”. Film dan novel AAC sanggup menghadirkan satu ’’dekonstruksi” atas pemahaman Islam terutama masalah hubungan cinta antara pria dan wanita. Novel AAC tepat momennya manakala anak-anak muda baru gede kita, terus ’’disusui” dan digurui televisi swasta dengan ’’ajaran-ajaran cinta” yang vulgar. Ayat-ayat Cinta juga tepat manakala Fitna tidak paham dengan Islam. Mestinya sang sutradara dan pencetus Fitna juga nonton AAC ini.

Siapa pun yang masih memegang nilai moral, etika, tata krama, budaya kesantunan, dst, pasti akan berteriak lantang jika menyaksikan adegan-adegan percintaan di televisi yang melibatkan para ABG. Anak-anak baru gede ini begitu vulgar mengekspresikan rasa cinta dengan gaya pelukan, ciuman atau pakaian-pakaian yang norak yang seolah mewakili kebudayaan liberal bahwa bercinta adalah sebuah pertemuan fisik belaka, atau bahwa getar-getar cinta hanyalah soal nafsu dan pandangan mata yang dirangsang oleh gaya berpakaian.

Demikian pula tema-tema ’’religius” di TV swasta juga terperosok dalam kubangan mistik serta ceritacerita khayalan yang tidak masuk akal dan jauh dari pengalaman keseharian. Apalagi tiba-tiba muncul tokoh dakwah yang nampak menggurui, dan sialnya sang pemeran dalam kehidupan kesehariaannya tidak mencerminkan sikap-sikap yang religius.

Di tengah-tengah bom kebosanan tersebut, muncullah AAC. Novel ini sanggup mengggetarkan syaraf-syaraf kaum muda bagaimana cara ’’bercinta yang estetis”. Pesan dari sang pengarang adalah, bahwa nikmat dan indahnya cinta justru terletak kepada kesantunan dan kemampuan seseorang dalam ’’memaksimalkan” getar-getar syaraf cinta sesungguhnya tanpa nafsu hewani. Gambaran ini dapat disamakan dengan kenikmatan seorang yang berbuka puasa ketika seharian ia mampu menahan hawa nafsu.

Tokoh Fahri digambarkan begitu santun yang tidak berani memandang, apalagi memegang tangan perempuan yang bukan muhrimnya. Selain itu latar belakang Mesir yang eksotik yang jarang dijadikan setting cerita novel, menjadi daya tarik tersendiri. Sang pengarang yang telah tinggal di negerinya Fir`aun ini selama tujuh tahun, begitu detil menceritakan lekuk- lekuk tempat di Mesir maupun budaya yang unik masyarakat setempat, seolah kita hanyut dan sedang berada di tepian Sungai Nil.

Keberhasilan sang pengarang justru terletak pada misi dakwah yang ’’disusupkan” dengan begitu halus tak terasa menyatu dalam karakter sang tokoh. Habiburrahman mampu memasukkan ajaran-ajaran Islam yang mulia tanpa ada kesan menggurui atau menyampaikan bahan pengajaran. Lihat saja dalam novel ini dimasukkan pula karya-karya ulama besar semacam Syaikh Prof Dr Yusuf Al-Qaradhawi (dalam As-Sunnah wal Bid`ah, Fatawa Mu`ashirah), Imam Syamsuddin Al Qurthubi (At Tadzkirah), Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah (kitan ruh), dst, serta lima buku lagi karya ulamaulama besar dari Mesir, Lebanon, dan Turki.

Coba saja jika karya-karya besar tadi hanya disajikan monoton dan ’’konvensional, hampir dapat dipastikan pembaca muslim apalagi para ABG tidak akan menyentuhnya, selain berat bobot ilmiah-religinya, juga tidak mudah dipahami. Yang menarik, sang pengarang juga berupaya mengcounter alergi Barat terhadap Islam. Citra Islam yang dikonotasikan kejam, teroris, suka poligami, dst, coba dijawab dalam novel ini dengan tidak bermaksud mengajaknya ’’berperang atau berdebat jauh”.

Kesantunan Islam dalam memperlakukan agama lain, poligami dan hubungan dengan orang lain ditampilkan dengan begitu baik. Kang Abik sang pengarang mencoba menjawab tesis Samuel Huntington tentang musuh Barat sesudah komunisme ambruk adalah Islam, adalah sesuatu yang mengada-ada. Islam adalah korban pencitraan media Barat yang oleh Baudrillard disebut fenomena Hyperreal. Citra justru lebih ’’riil” dibandingkan kenyataannya.

Budaya Timur Tengah dan politiknya, oleh Barat diindentikkan dengan Islam, dan ini adalah kesalahan terbesar yang dibuat mereka, sadar atau tidak. Islam dianggap sebagai ancaman karena nilai-nilai Islam diperkirakan akan ’’menghambat” kapitalisme Barat yang bertumpu kepada penjualan citra-citra liberalisme dan hedonisme yang merusak jiwa dan raga.

Citra Islam coba dibangun positif dalam AAC, bahkan mulai dari bab pertama. Dalam bab pertama, ketika pada umumnya orang-orang Mesir juga terkena provokasi Barat sehingga mereka juga begitu antipati terhadap orang bule yang berada di negerinya, muncul tokoh Aisha. Gadis asal Turki yang cerdas ini mencoba ’’membela” orang Barat, karena dalam pandangannya Islam harus mengayomi siapa saja. hf

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Indonesia Bisa

Bannerku

Picisan Merangkai Kata

Anda Pengunjung ke

Demi Massa

April 2008
S S R K J S M
    Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Aku seperti majnun dengan kemiskinan hatiku, yang telah tiada berdahan karena aku tidak punya kekuatan untuk memperebutkan cinta Tuhan Di setiap siang dan malam aku berusaha untuk membebaskan diriku Dari kungkungan rantai cinta yang telah lama memenjarakanku

Blog Stats

  • 234,584 hits

Arsip

Suported By
Dari Santri Untuk Indonesia
eramuslim
Munajahku
Blognya Pecinta Sastra
Suara Konsumen
Jakarta Baycity
Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik
Jakarta Baycity
GrowUrl.com - growing your website

RSS TARUMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Saatnya Menatap Dunia

Klik tertinggi

  • Tidak ada
ping me to technorati
website stats
Bangkit Basmi Korupsi

Poling Bulan Ini

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: